Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengungkap alasan Indonesia bersama tujuh negara mayoritas Muslim lainnya bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP). Keputusan tersebut diambil demi memperkuat upaya mewujudkan kemerdekaan Palestina.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam diskusi bersama sejumlah pakar dan jurnalis senior di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa malam (17/3/2026). Diskusi berlangsung cukup panjang, mulai pukul 19.00 hingga 01.30 WIB.
Mengutip Infopublik.id, dalam forum tersebut hadir sejumlah tokoh, antara lain Retno Pinasti, Muhammad Chatib Basri, Najwa Shihab, Rizal Mallarangeng, dan Mardigu Wowiek Prasantyo. Diskusi dimoderatori oleh Hasan Nasbi.
Menurut Prabowo, keputusan Indonesia bergabung dengan BoP telah melalui pertimbangan matang. Tujuan utamanya adalah membuka ruang lebih besar dalam memperjuangkan kepentingan Palestina di tingkat global.
Ia menjelaskan, keterlibatan Indonesia bermula saat dirinya menghadiri Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada 23 September 2025. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara (two-state solution).
Baca Juga: Inilah Pesan Idul Fitri Menag Nasaruddin Umar untuk Umat Islam
Beberapa jam setelah pidato tersebut, Prabowo bersama pemimpin negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir diundang Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam pertemuan itu, Trump menawarkan rencana perdamaian Gaza berupa 21 poin (21-point plan). Proposal tersebut dibacakan oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff.
Prabowo mengaku tertarik pada poin ke-19 dan ke-20 dalam proposal tersebut. Kedua poin itu membuka peluang bagi Palestina untuk menjadi negara merdeka serta mendorong dialog damai antara Israel dan Palestina.
Tonton: Menteri Perang AS Panggil Kembali Peserta Wajib Militer untuk Dinas 2 Tahun, Mau Perang Besar?
“Di poin 19 dan 20 ada peluang untuk kemerdekaan Palestina, meskipun terbatas. Akhirnya kami berdiskusi dan memutuskan untuk mendukung,” ujar Prabowo.
Negara-negara tersebut kemudian menunjuk Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, sebagai juru bicara untuk menyampaikan dukungan kepada Presiden Trump. Dalam pertemuan itu, mereka menegaskan bahwa tantangan utama justru berada pada sikap pemerintah Israel.
Tak lama setelah itu, muncul gagasan pembentukan Dewan Perdamaian (BoP) yang kemudian diadopsi dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.
Prabowo menilai, bergabung dalam BoP merupakan langkah strategis. Dengan berada di dalam, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memengaruhi kebijakan agar berpihak pada rakyat Palestina.
“Kalau kita di dalam, kita bisa memengaruhi dan membantu. Kalau di luar, kita tidak bisa berbuat banyak,” tegasnya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan ragu keluar dari BoP jika forum tersebut tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional maupun perjuangan Palestina.
“Selama BoP bermanfaat, kita akan terus berusaha. Namun jika tidak efektif atau kontraproduktif, kita siap keluar,” ujarnya menjawab pertanyaan Najwa Shihab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













