kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.488.000   -13.000   -0,52%
  • USD/IDR 16.707   7,00   0,04%
  • IDX 8.647   2,68   0,03%
  • KOMPAS100 1.194   -2,61   -0,22%
  • LQ45 847   -5,47   -0,64%
  • ISSI 309   -0,04   -0,01%
  • IDX30 437   -2,15   -0,49%
  • IDXHIDIV20 510   -4,16   -0,81%
  • IDX80 133   -0,62   -0,47%
  • IDXV30 139   0,36   0,26%
  • IDXQ30 140   -0,77   -0,54%

Agar Konsumsi Bisa Tumbuh 5,5% pada 2026, Ini yang Dibutuhkan


Minggu, 06 Juli 2025 / 15:09 WIB
Agar Konsumsi Bisa Tumbuh 5,5% pada 2026, Ini yang Dibutuhkan
ILUSTRASI. Sejumlah pedagang menata barang dagangannya di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Rabu (2/7/2025). Sri Mulyani Indrawati menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada pada kisaran 5,2% hingga 5,8% secara tahunan.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

Kemudian, pemerintah memberikan dukungan dan fasilitasi upaya mendorong reindustrialisasi melalui kawasan-kawasan industri baru yang saat ini sedang dan telah dibangun.

Selanjutnya, memperbanyak business matching antara investor industri dengan kawasan-kawasan industri yang siap menampung investasi baru maupun perluasan.

“Memperkuat layanan dan infrastruktur logistik untuk mendukung industrialisasi. Serta memberikan layak berbasis produktivitas agar industri/pengusaha juga mendapat output produktivitas tenaga kerja yang sejalan dengan tuntutan pembayaran upahnya,” ungkapnya.

Baca Juga: Daya Beli Belum Pulih, Tren Perlambatan Kredit Konsumsi Bakal Lanjut

Dalam kesempatan berbeda, Ekonom dari Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengungkapkan, selama ini yang menghambat laju pertumbuhan adalah adanya penurunan daya beli yang terjadi secara sistematik dan struktural, bahkan untuk diubah dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Saya tidak yakin konsumsi akan mampu tumbuh di level itu, harapan terbesar kita ada pada investasi yang juga sedang mengalami situasi sulit akibat persepsi ketidakpastian iklim berusaha yang belum membaik selain faktor dinamika ekonomi dan geopolitik dunia,” kata Wija.

Menurutnya, untuk menggerakkan konsumsi rumah tangga, pemerintah dinilai harus mengkalibrasi program-program besar yang boros anggaran, merevisi target-target pembangunan sehingga lebih realistis sehingga bisa dikonkritkan dalam bentuk kebijakan, rencana kerja dan anggaran.

Baca Juga: Masyarakat Menahan Konsumsi di Ramadan dan Idulfitri

Selain itu, target pertumbuhan dalam  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) perlu disesuaikan. Menurutnya, target angka yang terlalu bombastis sangat menggangu kita dalam menyusun rencana yang bisa dilakukan.

Misalnya saja terkait rencana ekspansi produksi listrik.

“Apakah kita harus menggunakan pertumbuhan 8% di tahun 2029 sebagai asumsi? jika iya, maka investasi pembangkit akan digeber, tetapi bagaimana jika ternyata hanya tumbuh 5% tahun 2029? Kita akan menghadapi over supply listrik yang luar biasa, padahal kita terikat dengan kontrak take or pay. Hal yang sama juga terjadi pada sektor lain, termasuk pangan, infrastruktur, transportasi,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×