NASIONAL
Berita
Tak hadir, SBY pilih teleconference di Pekan Nasional Tani-Nelayan

PEKAN NASIONAL TANI-NELAYAN

Tak hadir, SBY pilih teleconference di Pekan Nasional Tani-Nelayan


Telah dibaca sebanyak 668 kali
Tak hadir, SBY pilih teleconference di Pekan Nasional Tani-Nelayan


JAKARTA. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) absen dalam Pekan Nasional XIII Petani-Nelayan yang berlangsung di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. SBY lebih memilih melakukan teleconference dari Istana Negara dengan sejumlah menteri.

Diantaranya seperti Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Pariwisata dan Kebudayan Jero Wacik serta Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring.

Sebelumnya, SBY tidak pernah absen membuka acara tersebut. Namun, kali ini, dia berhalang hadir karena ada sejumlah agenda yang lebih penting.

SBY sendiri menilai acara Pekan Nasional Petani-Nelayan ini sangat penting. Dia menilai, acara yang digagas Kontak Tani Nelayan Andalan ini jauh dari politik praktis. "Saya senang dengan KTNA karena tidak masuk pada politik praktis. Khusus untuk kemajuan petani dan nelayan," jelasnya, Rabu (22/6)

Sebelumnya, Wakil Presiden Boediono telah membuka PENAS langsung di Kutai pada 18 Juni lalu. Sejatinya mengacu pada protokoler tidak diperkenankan Presiden dan Wakil membuka acara yang sama. "Oleh karena itu saya memilih untuk melakukan dialog," katanya.

Editor: Edy Can
Telah dibaca sebanyak 668 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..