: WIB    —   
indikator  I  

Laju ekonomi TW 1 2017 diperkirakan hanya 4%-an

Laju ekonomi TW 1 2017 diperkirakan hanya 4%-an

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melihat konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama tahun ini mengalami perlambatan. Sebagai penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB), perlambatan tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi di tiga bulan pertama tahun ini lebih rendah dari perkiraan BI sebelumnya.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan, perlambatan konsumsi rumah tangga tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran yang menurun.

Hal ini dipengaruhi oleh proses konsolidasi korporasi yang masih berlanjut dan terpengaruh dampak kenaikan harga yang diatur pemerintah (administred prices). "Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini sama dengan kuartal empat 2016," kata Dody, Kamis (20/4).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi kuartal keempat tahun lalu sebesar 4,94% year on year (YoY). Sebelumnya Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini sebesar 4,99%-5%.

Perlambatan konsumsi tersebut juga terindikasi dari penurunan volume impor Januari-Maret 2017 yang dicatatkan BPS sebesar 1,13% YoY, meski nilai impor periode tersebut naik 14,83% YoY menjadi US$ 36,68 miliar.

Selain itu, Dody mengakui, kenaikan harga sejumlah komoditas sejak akhir tahun lalu juga belum berdampak pada perbaikan konsumsi rumah tangga. Namun ia melihat, tren konsumsi rumah tangga ke depan akan mengalami perbaikan.

"Kami hanya menunggu saatnya dampak dari harga komoditas itu tersalur ke konsumsi. Sekarang sudah terlihat pada investasinya," tambah Dody.

Menurutnya, investasi pada kuartal pertama tahun ini didorong oleh investasi bangunan dan non-bangunan. Perbaikan investasi non-bangunan yang terjadi karena kenaikan harga komoditas, tampak pada peningkatan penjualan alat berat untuk pertambangan dan perkebunan yang meningkat.

Tak hanya itu, kenaikan harga komoditas juga mendorong kinerja ekspor yang tumbuh positif. Nilai ekspor Indonesia Januari-Maret 2017 tercatat sebesar US$ 40,61 miliar atau meningkat 20,84% dibanding periode yang sama tahun 2016.

"Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat pada kuartal kedua 2017 ditopang oleh perbaikan investasi dan ekspor, sedangkan konsumsi bakal stabil," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara.

Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) Eric Sugandi sebelumnya juga memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama tahun ini hanya sebesar 5% dan berpotensi turun lebih rendah di angka 4,9%


Reporter Adinda Ade Mustami

PERTUMBUHAN EKONOMI

Feedback   ↑ x
Close [X]