: WIB    —   
indikator  I  

Kekayaan alam RI jadi magnet negara Skandinavia

Kekayaan alam RI jadi magnet negara Skandinavia

JAKARTA. Duta Besar RI untuk Swedia, Bagas Hapsoro mengungkapan alasan Indonesia menjadi magnet bagi negara-negara di kawasan Skandinavia untuk menjalin kerjasama bilateral.

"Orang di sana melihat Indonesia negara yang eksotik, yang inspiring, kekayaan alamnya, terumbu karangnya," kata Bagas di Jakarta, Kamis (18/5).

Indonesia pun diharapkan negara-negara Skandinavia itu bisa berperan lebih banyak dalam menjaga kekayaan alam tersebut.

"Mereka akan akan beri bantuan dalam hal ini kalau bisa dipelihara. Misal mereka senang dengan Komodo, mereka akan membantunya," ujar Bagas.

"Di Swedia ada kebun binatang yang punya Komodo. Awalnya satu pasang. Tapi satunya mati. Nah raja minta diganti Komodo yang di sana. Ini tak mudah," lanjutnya.

Selain itu, negara-negara tersebut juga tertarik akan kondisi demokrasi Indonesia yang terus berkembang dengan baik.

"Dulu hubungan kita dengan negara Skandinavia tak baik, sekarang sedang mesra," ungkap Bagas.

Tak berbeda, Direktur Eropa II Kementerian Luar Negeri, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji mengatakan bahwa Indonesia menjadi magnet kunjungan bilateral dunia karena dianggap sebagai negara paru-paru dunia.

"Indonesia memiliki hutan paru-paru dunia yang merupakan suatu aset. Hal itu jadi perhatian mereka. Mereka ingin Indonesia mampu memelihara lingkungannya. Memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi," kata Witjak.

Karena itu, tak sedikit dari negara Nordik itu ingin menjalin kerja sama bilateral yang lebih erat dengan Indonesia secara berkelanjutan dalam banyak bidang. Terlebih jika melihat, kelas menengah masyarakat Indonesia yang terus meningkat.

"Mereka menganggap kita butuh banyak solusi dalam pembangunan yang berkelanjutan," ujar dia.

"Misal soal potensi kebutuhan energi yang harus diambil. Bukan dari fosil lagi tapi harus dikembangkan dari bentuk energi baru dan terbarukan. Denmark, Swedia, Finlandia, punya keunggulan di bidang-bidang itu yang bisa dimanfaatkan buat Indonesia," kata Witjak. (Moh Nadlir)


SUMBER : Kompas.com
Editor Sanny Cicilia

KUNJUNGAN BILATERAL

Feedback   ↑ x