| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.148
  • SUN98,24 0,00%
  • EMAS608.022 0,33%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Ekonomi Indonesia diproyeksi tumbuh 5,2% di 2018

Senin, 11 Juni 2018 / 12:27 WIB

Ekonomi Indonesia diproyeksi tumbuh 5,2% di 2018
ILUSTRASI. Tekanan inflasi membebani pertumbuhan ekonomi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan perekonomian Indonesia diperkirakan berlanjut secara bertahap di tahun 2018. Hal itu sebagaimana proyeksi Asean +3 Macroeconomics Research Office (AMRO) usai Annual Consultation Visit ke Indonesia 28 Mei-7 Juni 2018 lalu.

Kunjungan tersebut dipimpin oleh Lead Economist AMRO Sumio Ishikawa dan Direktur AMRO Chang Junhong, dan Chief Economist AMRO Hoe Ee Khor. Diskusi berfokus pada perkembangan dan prospek terkini, risiko dan kerentanan, spillover global dan regional, serta respons bauran kebijakan.

Ishikawa mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia telah menguat dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh pelaksanaan bauran kebijakan yang tepat. Setelah tumbuh 5,1% di tahun 2017, Ishikawa memproyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) riil di 2018 tumbuh 5,2% dengan inflasi yang tetap terjaga.

“Karena risiko eksternal yang berasal dari kondisi keuangan global yang lebih ketat dan ketidakpastian atas kebijakan perdagangan global telah meningkat, kalibrasi berkelanjutan dari bauran kebijakan oleh pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK telah efektif dan akan tetap penting dalam menjaga stabilitas sambil mempertahankan momentum pertumbuhan," kata Ishikawa yang dikutip Kontan.co.id dari situs resmi AMRO, Senin (11/6).

Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini, didukung investasi yang berkelanjutan. Sementara konsumsi rumah tangga didorong oleh upah riil yang lebih tinggi dan peningkatan bantuan sosial.

Sementara inflasi, diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran target 3,5% plus minus 1% karena dampak kenaikan harga minyak global akan dikurangi dengan langkah-langkah pihak berwenang untuk mengendalikan inflasi.

AMRO yang berbasis di Singapura juga melihat, perbaikan ekspor dan aliran masuk modal yang kuat memperkuat neraca pembayaran secara keseluruhan dan mendukung akumulasi cadangan devisa (cadev) resmi menjadi US$ 130,2 miliar pada tahun 2017. 

Makanya, posisi eksternal Indonesia di bawah tekanan pada awal 2018 di tengah pembalikan aliran modal yang mencerminkan keengganan investor terhadap pasar negara berkembang.

Surplus perdagangan juga mengecil saat harga minyak yang lebih tinggi dan impor terkait investasi yang kuat. Untuk meminimalkan volatilitas yang berlebihan dalam nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar yang mengakibatkan penurunan cadev menjadi US$ 124,9 miliar pada akhir April 2018.

BI telah menaikkan suku bunganya sebanyak dua kali pada Mei 2018 dengan total 50 basis points (bps) untuk merespon kondisi eksternal. BI mengisyaratkan niatnya untuk melonggarkan kebijakan makroprudensial dan melanjutkan pendalaman pasar keuangan, untuk mempertahankan momentum pertumbuhan. Pasar keuangan pun merespons positif kebijakan preemptive, ahead the curve, dan front loading itu.

AMRO menyambut baik prioritas para pembuat kebijakan terhadap stabilitas dan kesiapan untuk mempertimbangkan langkah-langkah preemptive lebih lanjut jika risiko terhadap stabilitas terus meningkat. 

Sektor perbankan telah mempertahankan penyangga modal yang kuat dengan peningkatan kualitas aset dan profitabilitas yang berkelanjutan.

Kredit domestik telah meningkat sejak awal 2018, didukung oleh modal kerja dan pinjaman konsumsi. Sementara pinjaman investasi tetap stabil, perusahaan semakin menyadap pasar modal domestik dan luar negeri untuk pembiayaan jangka menengah dan panjang.

Defisit fiskal diperkirakan akan mengecil menjadi 2,2% dari PDB pada 2018, mencerminkan peningkatan dalam pendapatan. Realisasi anggaran dalam empat bulan pertama tahun 2018 menunjukkan peningkatan pendapatan dan defisit anggaran menyempit. 

Kebijakan fiskal telah berfokus pada menjaga stabilitas, yang bertujuan untuk mempromosikan prospek pertumbuhan jangka menengah dan panjang dan membangun bantal terhadap guncangan eksternal.

Rancangan Kerangka Kerja Fiskal 2019 dan Tujuan Fiskal Jangka Menengah 2020-2022, yang bertujuan untuk memperkuat posisi fiskal dengan langkah-langkah peningkatan pendapatan dan melanjutkan prioritas pengeluaran terhadap investasi infrastruktur, yang telah diajukan ke parlemen untuk disetujui, patut diapresiasi.

Serangkaian paket kebijakan ekonomi untuk memperkuat iklim investasi dan meningkatkan daya saing telah berkontribusi pada peningkatan peringkat Kemudahan dalam Berusaha (Ease of Doing Business) dan peningkatan peringkat pemerintah, termasuk penegasan peringkat kredit investasi oleh Standard and Poor's (S&P) pada 31 Mei 2018 lalu.

Upaya lebih lanjut untuk diversifikasi ekonomi dan struktur ekspor, termasuk dengan menggeser global value chain menuju peningkatan ekspor dan penyerapan tenaga kerja, perlu dilakukan. 

AMRO menyambut baik peningkatan investasi infrastruktur baru-baru ini untuk meningkatkan konektivitas dan investasi swasta. Makanya, reformasi untuk meningkatkan daya saing di bidang ketrampilan tenaga kerja dan industri pendukung lokal juga perlu ditingkatkan.


Reporter: Adinda Ade Mustami
Editor: Herlina Kartika

MAKROEKONOMI

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0015 || diagnostic_api_kanan = 0.0377 || diagnostic_web = 0.2111

Close [X]
×