kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.539   9,00   0,05%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

WHO Dorong Presidensi G20 untuk Lahirkan Inovasi dalam Mengatasi TBC


Selasa, 29 Maret 2022 / 19:16 WIB
ILUSTRASI. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus. WHO Dorong Presidensi G20 untuk Lahirkan Inovasi dalam Mengatasi TBC.


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mendorong kepemimpinan G20 agar dapat melahirkan inovasi yang dapat atasi penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC).

Tedros mengatakan terdapat lebih dari 1,5 juta orang per tahun dinyatakan meninggal akibat penyakit tuberkulosis (TBC). Dan dalam satu dekade terakhir akibat covid 19 ada peningkatan kematian yang terjadi akibat dari adanya pandemi.

“Kami telah membuat inovasi dalam mengatasi isu ini, lebih dari 66 juta orang menerima akses ke Layanan TbC sejak tahun 2000. Sayangnya, tantangan tetap ada. Covid-19 telah mengambil perhatian publik belakangan ini. Hingga peningkatan kematian TBC untuk pertama kalinya terjadi lebih dari satu dekade,” jawab Tadros dalam diskusi 1st Health Working Group Side Event on Tuberculosis, Selasa (29/3).

Dia menambahkan, konflik di Afghanistan, Ethiopia, Suriah, Ukraina, dan Yaman juga semakin memperparah penderita TBC dalam memperoleh akses kesehatan bagi kehidupan mereka.

Baca Juga: Waspada Tuberkulosis (TBC), Bagaimana Memberantas Infeksi Ini?

“Bahkan saat ini Ukraina memiliki beban TBC yang tinggi dan dijuluki sebagai penderita yang kebal terhadap obat obatan dan hal ini sangat membahayakan,” tegas Tedros.

Tadros mengatakan, tantangan terbesar dalam mengatasi TBC adalah pembiayaan. Di beberapa negara maju pembiayaan dan inovasi dalam mengatasi TBC sudah dapat terpenuhi. Namun terdapat negara dengan ekonomi lemah tidak memiliki kapasitas fiskal yang memadai untuk membuat layanan publik dalam mengatasi masalah TBC di negara mereka, terutama setelah dampak sosial-ekonomi akibat pandemi.

Dia menilai, pembiayaan untuk penelitian TBC setidaknya diberikan pendaan yang cukup agar dapat menelurkan alat baru, obat obatan termasuk vaksin. Jika sudah mengintensifkan pengembangan vaksinasi seperti yang sudah terjadi di covid-19 hal ini dapat menekan pembiayaan perawatan kesehatan dan peningkatan angka sembuh pada TBC.

“Maka secara bersama-sama, tantangan-tantangan ini harus menemukan jawaban. Kita membutuhkan ide dan inovasi dari kepemimpinan negara anggota G20 dan dari Komunitas Internasional untuk mengakhiri TBC,” ucapnya.

Baca Juga: Gejala TBC, pengobatan dan pencegahan penyakit ini

Tadros menekankan, penanganan TBC adalah investasi bagi setiap negara, bukan semata mata hasil dari pembangunan melainkan landasan untuk stabilitas sosial, ekonomi dan politik setiap negara.

“Yang menjadi pertanyaan tentang isu ini bukan apakah kita mampu melakunnya, tetapi apakah kita mampu apabila tidak melakukanya? Sedangkan krisis kesehatan tbc sudah berlangsung sejak lama,” tutup direktur Jendral WHO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×