kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Uang Beredar Tembus Rp 10.587 Triliun, tapi Aktivitas Sektor Riil Belum Kencang


Sabtu, 24 Oktober 2026 / 17:56 WIB
Uang Beredar Tembus Rp 10.587 Triliun, tapi Aktivitas Sektor Riil Belum Kencang
ILUSTRASI. Pekerja melintas di trotoar kawasan perkantoran Sudirman (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan uang beredar di Indonesia semakin tinggi, tetapi peningkatan likuiditas ini belum tentu mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi produktif.

Pasalnya, ketika uang beredar dalam arti luas (M2) terus meningkat, pertumbuhan uang primer (M0) justru melambat tajam dan penyaluran kredit mulai kehilangan momentum.

Bank Indonesia (BI) mencatat, M2 mencapai Rp 10.587,9 triliun pada September 2026, tumbuh 8,3% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2026 sebesar 8,2% yoy.

Baca Juga: Uang Beredar Meningkat pada September 2026, Belum Cerminkan Penguatan Sektor Riil

Direktur Riset Bright Institute Muhammad Andri Perdana menilai, kenaikan M2 merupakan sinyal positif.

Namun, sumber pertumbuhan likuiditas tersebut perlu dicermati untuk melihat sejauh mana uang benar-benar menggerakkan aktivitas ekonomi sektor swasta.

Menurut Andri, perlambatan pertumbuhan M0 menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan.

Data BI menunjukkan, M0 adjusted mencapai Rp 2.353,1 triliun pada September 2026, tumbuh 9,3% yoy. Angka ini melambat signifikan dibandingkan pertumbuhan Agustus 2026 yang mencapai 16,3% yoy.

"Bisa jadi indikasi baik andai M0 juga naik lebih baik dari sebelumnya," ujar Andri kepada KONTAN, Jumat (23/10/2026).

Andri menduga, peningkatan likuiditas pada September lebih banyak ditopang oleh ekspansi fiskal pemerintah daripada penguatan aktivitas ekonomi sektor swasta.

Indikasinya terlihat dari pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang mencapai 24,4% yoy, berbalik dari kontraksi 7% yoy pada Agustus 2026.

Baca Juga: PINISI BI Jadi Langkah Strategis, Tapi Belum Cukup Dongkrak Kredit Sektor Riil

Menurut dia, lonjakan tersebut dapat berkaitan dengan belanja pemerintah, termasuk pencairan anggaran dan stimulus dalam jumlah besar.

Aliran belanja itu kemudian dapat menambah saldo rekening dan simpanan masyarakat sehingga turut mendorong pertumbuhan M2.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, pertumbuhan M2 pada September 2026 ditopang oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi.

M1 tumbuh 9% yoy menjadi Rp 6.029,3 triliun. Adapun uang kuasi meningkat 7,3% yoy menjadi Rp 4.498,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2026 sebesar 6,5% yoy.

Dari sisi eksternal, aktiva luar negeri bersih juga menunjukkan perbaikan. Komponen ini tumbuh 1% yoy pada September 2026, setelah terkontraksi 6,6% yoy pada bulan sebelumnya.

Namun, penyaluran kredit perbankan masih tumbuh 12,7% yoy, melambat dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 13,3% yoy. Perlambatan ini menjadi salah satu perkembangan yang perlu dicermati di tengah meningkatnya likuiditas perekonomian.

Baca Juga: Dana Mengendap Uang Elektronik Tembus Rp 18,7 Triliun

Andri menegaskan, besarnya uang beredar tidak cukup untuk menggambarkan kekuatan ekonomi tanpa melihat sumber pertumbuhannya.

Likuiditas yang meningkat perlu diikuti aktivitas produktif sektor riil agar benar-benar mencerminkan penguatan ekonomi, bukan sekadar bertambahnya uang dalam sistem keuangan.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×