kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Tren penurunan ekonomi belum usai


Rabu, 12 Oktober 2016 / 11:05 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami, Hasyim Ashari | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Laju ekonomi Indonesia masih labil dan masih dalam tren melambat. Arah dan pergerakannya cenderung disetir faktor musiman dan tren daya beli, belum ditopang oleh perbaikan fundamental ekonomi yang kuat.

Itulah yang tecermin dari hasil sejumlah survei yang digelar Bank Indonesia (BI). Survei BI terbaru, sebagai contoh, menunjukkan indeks penjualan riil (IPR) pada Agustus 2016 turun lebih dalam 6,5% dibanding dengan Juli 2016 yang turun 0,7%.

IPR menunjukkan tren penjualan di tingkat eceran. Penurunan indeks tersebut menunjukkan tren penjualan ritel secara umum. "Kontraksi ini disebabkan oleh penurunan penjualan produk sandang -17,8%," ungkap Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI dalam penjelasan resmi secara tertulis, Selasa (11/10).

Penurunan itu tak lepas dari berakhirnya efek belanja puasa dan Lebaran pada Juni-Juli 2016. Dengan kata lain, masyarakat kembali mengerem belanja, bisnis ritel lesu lagi sehingga menekan laju ekonomi nasional secara umum.

Survei BI yang lain juga menunjukkan, keyakinan konsumen periode Januari-September 2016 turun ke level 110. Meski masih di kategori optimistis, keyakinan konsumen sedang dalam tren turun. Hasil survei terhadap kalangan dunia, juga belum menggembirakan.

Secara umum, dunia usaha sepanjang kuartal III-2016 tengah lesu. Ada sejumlah indikatornya. Pertama, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang turun menjadi sebesar 13,20%. Padahal kuartal sebelumnya berada di level 18,40%.

Kendati masih di level positif, penurunan posisi SBT ini menunjukkan dunia usaha tengah mengerem ekspansi bisnis. Indikator kedua, rata-rata kapasitas terpakai pabrik (utilisasi) juga turun. Pada kuartal III-2016, utilisasi pabrik sebesar 76,21%, sementara kuartal sebelumnya mencapai 77,01%.

Imbasnya, kemampuan perusahaan untuk mencetak laba juga ikut menurun. Ekonom Maybank Indonesia Juniman, menilai, pelambatan ekonomi Indonesia akibat daya beli masyarakat belum pulih.

Ia berharap, pemerintah harus memberi stimulus pengerek daya beli. Misalnya melalui percepatan belanja, terutama sektor infrastruktur, dan segera menerapkan paket ekonomi.

Kendati secara umum melambat, Menko Ekonomi Darmin Nasution tetap yakin dengan ekonomi lokal dan optimistis tahun ini bisa tumbuh 5,1%-5,2%. Apalagi, harga hasil perkebunan dan pertambangan sedang naik. "Situasi global belum bagus. Tapi, kita tidak jelek juga," katanya.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara juga melihat tren kegiatan dunia usaha mulai membaik sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter. Oleh karena itu, dia yakin pertumbuhan ekonomi 2016 di kisaran 5,1%-5,5% dengan titik tengah di 5,2%.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmita menilai, selain efek pelambatan ekonomi global, ekonomi cenderung melemah karena selama tiga bulan terakhir, pengusaha fokus mengurus amnesti pajak. "Juli, Agustus, September semua orang konsentrasi membayar amnesti," ujarnya.

Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga akhir 2016. Pengusaha baru merencanakan ekspansi di tahun 2017. "Sebanyak 90% duit masih di simpan di bank," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×