Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Samuel Sekuritas Indonesia menilai lanskap makroekonomi Indonesia pada minggu ketiga April 2026 mencerminkan semakin eratnya interaksi antara volatilitas eksternal dan realitas struktural domestik.
Berbeda dengan minggu sebelumnya dimana tekanan terutama berasal dari faktor eksternal, periode ini menunjukkan dinamika yang lebih kompleks, di mana guncangan global mulai semakin merambat ke dalam struktur ekonomi domestik.
Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus berdampak pada pasar energi, dengan harga minyak yang stabil pada level tinggi setelah lonjakan sebelumnya.
Baca Juga: Beban Utang Negara Makin Berat, Ekonom Peringatkan Ruang Fiskal Menyempit
“Hal ini memperkuat risiko inflasi dan mempersulit pengelolaan fiskal, terutama mengingat komitmen Indonesia untuk mempertahankan subsidi bahan bakar,” ujar Fithra dalam keterangan resmi, Senin (20/4/2026).
Di sisi lain, tekanan nilai tukar masih berlanjut, dengan rupiah berada di kisaran Rp 17.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini mencerminkan kerentanan terhadap siklus likuiditas global. Secara domestik, munculnya fenomena “jobless growth” menyoroti tantangan struktural yang lebih dalam, di mana pertumbuhan ekonomi tidak lagi secara otomatis diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan yang merata.
Sementara itu, respons kebijakan, mulai dari intervensi Bank Indonesia hingga sinyal fiskal, menunjukkan upaya terkoordinasi untuk menjaga stabilitas tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan.
“Secara keseluruhan, Indonesia tetap resilien, namun sumber risiko kini mulai bergeser, dari semata-mata guncangan eksternal menuju interaksi yang lebih kompleks antara volatilitas global dan keterbatasan struktural domestik,” kata Fithra.
Fithra menilai trajektori makroekonomi Indonesia tetap resilien, namun semakin bersifat kondisional. Dalam jangka pendek, permintaan domestik dan dukungan kebijakan akan terus menjadi penopang pertumbuhan. Namun, tiga faktor eksternal utama akan sangat menentukan arah ke depan. Antara lain, harga energi global, khususnya volatilitas minyak, kebijakan moneter AS dan pergerakan yield global, serta stabilitas geopolitik di Timur Tengah.
Di saat yang sama, Fithra menyebut isu struktural domestik, terutama penyerapan tenaga kerja, kualitas investasi, dan kredibilitas institusi, akan semakin membentuk kinerja jangka menengah. Pada akhirnya, Indonesia memasuki fase di mana keberlanjutan pertumbuhan akan lebih bergantung pada transformasi struktural dibandingkan sekadar momentum siklikal.
“Tantangannya bukan lagi hanya menjaga pertumbuhan di atas 5%, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut inklusif, tangguh, dan tidak rentan terhadap guncangan eksternal,” pungkas Fithra.
Baca Juga: Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi, Stok di SPBU Swasta Jakarta Selatan Belum Lengkap
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













