kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.114   21,00   0,12%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

Rupiah Dibayangi Tekanan Global, BI-Rate Diproyeksi Naik Ke Level 6,25% di 2027


Jumat, 06 November 2026 / 07:48 WIB
Rupiah Dibayangi Tekanan Global, BI-Rate Diproyeksi Naik Ke Level 6,25% di 2027
ILUSTRASI. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih berpotensi mengalami kenaikan hingga mencapai 6,25% pada 2027, dari posisi saat ini mencapai 5,75%. (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – SABANG. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih berpotensi mengalami kenaikan hingga mencapai 6,25% pada 2027, dari posisi saat ini mencapai 5,75%.

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta ketidakpastian ekonomi global menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz mengatakan, tekanan eksternal masih menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia.

Terutama, dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, dinamika harga energi global, serta perkembangan arus modal asing.

Menurutnya, meskipun ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh relatif kuat, kondisi tersebut akan diikuti biaya pendanaan yang lebih tinggi atau higher cost.

Baca Juga: Rupiah Terancam Kian Melemah, BI Hadapi Dilema Suku Bunga Usai The Fed Beri Sinyal

"Kita akan hidup di pertumbuhan yang relatively resilient tapi at a higher cost. Ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh resilient di tengah global yang slow down, tapi itu membutuhkan biaya yang lebih tinggi," ujar Faiz dalam agenda pelatihan wartawan bersama Bank Indonesia (BI), Kamis (5/11).

Faiz menjelaskan, tekanan terhadap rupiah juga perlu dicermati seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia.

Danamon memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) mencapai 1,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan melebar menjadi 1,6% terhadap PDB pada 2027.

Pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut menunjukkan kebutuhan dolar AS yang relatif tinggi untuk membiayai impor dan aktivitas ekonomi domestik.

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia perlu menjaga daya tarik pasar keuangan agar tetap mampu menarik aliran modal asing.

Di sisi lain, ketidakpastian global membuat investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang lebih aman. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap aliran modal asing di pasar saham maupun obligasi domestik.

Faiz juga menyoroti peningkatan premi risiko Indonesia yang membuat investor membutuhkan imbal hasil lebih tinggi untuk menempatkan dananya di dalam negeri.

Baca Juga: Hasil FOMC Oktober 2026: Apa Artinya bagi Rupiah hingga Desember?

"Kalau premi risiko kita meningkat, memang investor akan masuk itu ketika yield-nya lebih tinggi. Karena dia minta premi yang lebih besar," jelasnya.

Terkait kebijakan moneter, Faiz memperkirakan ruang kenaikan suku bunga acuan BI secara makroekonomi masih terbuka hingga mencapai level terminal rate 6,25%.

Meski demikian, potensi kenaikan tersebut tidak serta-merta harus direalisasikan. Pemanfaatan ruang kenaikan suku bunga akan bergantung pada perkembangan tekanan eksternal, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah.

"Kami pun memperkirakan ruang secara makro ekonominya memang ada di terminal rate-nya 6,25%, hitungan kami. Tapi utilisasinya itu akan bergantung kepada apakah tekanan eksternal ini akan terus terjadi atau justru akan mereda," ungkap Faiz.

Ia menambahkan, apabila tekanan eksternal mereda dan stabilitas rupiah terjaga, BI memiliki peluang untuk tidak menggunakan seluruh ruang kenaikan suku bunga tersebut.

Bahkan, jika tren disinflasi mulai terbentuk dan nilai tukar rupiah semakin stabil, BI diperkirakan mulai memiliki ruang untuk memangkas suku bunga pada 2027.

Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan Inflasi dan Geopolitik, Simak Proyeksi Besok Rabu (4/11)

Namun, ruang pelonggaran tersebut diperkirakan masih terbatas dan baru terbuka pada paruh kedua 2027. Hal ini mengingat suku bunga global diperkirakan masih bertahan tinggi sehingga membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.

"Kalau disinflasi sudah mulai terjadi, nilai tukar sudah mulai stabil, kami berpikir di 2027 BI punya ruang untuk cut interest rate, tapi mungkin kami melihatnya baru di second half 2027 dan ruangannya cukup terbatas," kata dia.

Karena itu, ia mengingatkan pelaku usaha untuk mencermati dua risiko utama pada 2027, yakni pergerakan nilai tukar rupiah dan suku bunga.

Kedua faktor tersebut akan memengaruhi biaya produksi, pembiayaan, serta daya tahan berbagai sektor usaha di tengah prospek pertumbuhan ekonomi yang masih relatif terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×