Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melihat terdapat tiga sektor transisi energi yang berpotensi menjadi penggerak investasi Indonesia ke depan, yakni elektrifikasi, hilirisasi yang lebih bersih, serta pengembangan bahan bakar hayati (biofuel).
Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengatakan Indonesia berada di posisi yang kuat dalam transisi energi global mengingat cadangan nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis yang dimiliki.
Pemerintah, lanjutnya, juga tengah membangun ekosistem terintegrasi yang menghubungkan pertambangan, pengolahan, manufaktur, energi bersih, dan teknologi melalui strategi hilirisasi.
Baca Juga: Kemenko Hilirisasi Dibentuk, Rosan: Kementerian Investasi dan Hilirisasi Tetap Ada
“Dengan cara inilah nilai tambah dan lapangan kerja yang lebih baik tercipta. Hasilnya kini semakin terlihat nyata," kata Rosan dalam Indonesia International Sustainability Forum 2026 di Kempinski Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Ia menambahkan, BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia mencapai lebih dari US$ 120 miliar pada 2025, tumbuh 12,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. Sementara pada semester I-2026, realisasi investasi telah mencapai US$ 61 miliar, naik 7,2% YoY dan menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja.
Menurut Rosan, investasi di industri hilirisasi kini menyumbang sekitar 30% dari total investasi nasional dan disebut terus menunjukkan pertumbuhan, baik dari investor domestik maupun internasional.
Ia membeberkan investasi yang masuk terutama paling menonjol di tiga sektor utama, yakni elektrifikasi, hilirisasi yang bersih, serta pengembangan biofuel.
Rosan bilang, investasi di sektor elektrifikasi terus berkembang mulai dari sektor pertambangan, produksi sel baterai, hingga kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
"Indonesia saat ini telah memiliki fasilitas produksi sel baterai melalui kerja sama dengan Hyundai, serta CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) dan IBC (Indonesia Battery Corporation), perusahaan BUMN kita. Produksi mulai beroperasi secara bertahap sejak Agustus," katanya.
Di sisi kendaraan listrik, Rosan mengungkapkan sekitar satu dari enam mobil baru yang terjual di Indonesia saat ini merupakan kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV), sedangkan dari dua pertiga kendaraan listrik tersebut juga telah dirakit di dalam negeri.
Kedua, hilirisasi yang lebih bersih. Menurut Rosan, perkembangan hilirisasi berikutnya akan ditentukan oleh sumber energi yang digunakan untuk mengoperasikan smelter dan industri pengolahan. Di mana, tenaga surya, hidro, panas bumi, serta teknologi penyimpanan energi (energy storage) dinilai menjadi sumber investasi yang potensial.
Indonesia sendiri diperkirakan memiliki potensi energi terbarukan hampir 3.700 gigawatt (GW). Namun, pemanfaatannya saat ini masih kurang dari 1% atau sekitar 15,4 GW.
"Program pembangunan PLTS 100 GW yang diluncurkan Presiden pada Agustus memberikan skala nasional terhadap pengembangan energi terbarukan," ujar Rosan.
Baca Juga: CEO Danantara Beberkan Strategi Pemerintah Tarik Investasi Transisi Energi
Adapun dari sisi optimalisasi bahan bakar hayati atau biofuel, Rosan menyebut Indonesia telah meningkatkan bauran biodiesel melalui implementasi biodiesel 50% atau B50.
"Dalam dua bulan (sejak implementasi), B50 telah tersedia di sekitar 94% SPBU Pertamina," ungkapnya.
Selain biodiesel, Rosan mengungkap pemerintah juga menyiapkan pengembangan bahan bakar rendah emisi lainnya. Regulasi telah mengatur mandatori campuran etanol 5% pada bensin non-subsidi di seluruh Jawa, serta penerapan sustainable aviation fuel (SAF) yang dimulai pada 2027.
Rosan juga menyoroti besarnya peluang investasi pada titik temu antara transisi energi dan ekonomi digital. Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan membutuhkan dukungan listrik, jaringan transmisi, lahan industri, konektivitas, dan infrastruktur digital yang memadai.
"Dengan kata lain, masa depan AI akan berkaitan dengan infrastruktur. Indonesia memiliki skala ukuran pasar dan posisi geografis untuk menjadi destinasi infrastruktur digital utama di Asia," tandas Rosan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














