Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk menarik investasi di sektor transisi energi yang dinilai memiliki potensi besar.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengatakan, besarnya potensi investasi saja belum cukup untuk menarik modal masuk ke Indonesia.
"Potensi saja tidak cukup untuk menarik modal," ujar Rosan dalam agenda Indonesia Sustainability Forum 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Selasa (6/10/2026).
Karena itu, pemerintah tengah memperkuat kepastian perizinan. Rosan mengatakan, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025, proses perizinan kementerian dan lembaga diintegrasikan ke dalam sistem Online Single Submission (OSS) dengan tenggat layanan yang lebih jelas.
Baca Juga: UU Ketenagakerjaan Baru Perkuat Sanksi, Bahkan Ada Ancaman Pidana
Jika tenggat waktu terlewati dan persyaratan telah lengkap, permohonan izin disebut dapat disetujui secara otomatis. "Sejauh ini, saya telah menyetujui lebih dari 370 izin dan rekomendasi karena adanya Peraturan Pemerintah yang baru ini," kata Rosan.
Selain perizinan, pemerintah mendorong percepatan realisasi investasi di lapangan. Pada 2025, sebanyak 21 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menawarkan fasilitas fiskal dan layanan satu pintu.
Melalui program Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK), lanjut Rosan, investor di kawasan industri yang memenuhi syarat dapat memulai konstruksi sembari proses perizinan diselesaikan.
Pemerintah juga menawarkan insentif seperti tax allowance dan pembebasan bea masuk untuk investasi di sektor prioritas, termasuk energi bersih.
Dari sisi pembiayaan, Rosan mengatakan Danantara akan berperan dalam mendorong pengembangan proyek yang lebih bankable, mengurangi risiko, serta menarik pembiayaan dari sumber domestik maupun internasional.
"Kami ingin membantu mengembangkan proyek yang bankable, mengurangi risiko, dan menarik pembiayaan yang lebih besar dari modal domestik maupun internasional ke sektor-sektor strategis," jelasnya.
Salah satu sektor yang telah didukung Danantara ialah pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste-to-energy/WtE).
Baca Juga: BPS Catat Perputaran Uang Melambat di Tengah Lonjakan Likuiditas
Rosan menjelaskan, proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) senilai Rp 225 triliun di Bali, Bogor, dan Bekasi telah memasuki tahap groundbreaking. Pemerintah menargetkan groundbreaking proyek pengelolaan sampah menjadi energi di 12 kota hingga akhir 2026 dengan mengadopsi standar emisi Eropa.
Rosan menegaskan, investasi yang diarahkan secara tepat dapat mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
"Sumber daya, pasar, dan ambisinya ada di sini. Arah kebijakannya jelas. Dan yang terpenting, peluangnya ada di sini," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













