kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Rel ambles di Cilebut, ini penjelasan Dirut KAI


Kamis, 11 Oktober 2012 / 10:15 WIB
ILUSTRASI. JYP rilis teaser anggota girl group baru yang akan debut Februari 2022 mendatang


Reporter: Edy Can | Editor: Edy Can

YOGYAKARTA. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero Ignasius Jonan angkat bicara soal tanah yang retak di daerah Cilebut. Hal ini menyebabkan KRL lintas Bogor sempat terganggu kemarin.

"Itu murni karena alam. Karena hujan lebat, tanah di sana menjadi rawan ambles," kata Jonan saat ditemui di Rapat Koordinasi BUMN di Yogyakarta, Kamis (11/10).

Menurut Jonan, daerah Bogor memang dinilai cukup rawan, khususnya karena memiliki daerah dengan curah hujan tinggi, sehingga tanah mudah longsor, apalagi yang tidak memiliki tanaman di atasnya.

Solusinya, pihak KAI akan menanam pohon atau tanaman yang bisa membuat tanah di sekitar rel menjadi kuat. Bisa juga pihak KAI akan memperkuat fondasi di sekitar rel sehingga tidak membahayakan rel.

"Akan tetapi, fondasi itu bukan disemen. Kalau disemen, malah tidak fleksibel, khususnya kalau ingin memperluas rel," ujarnya.

Terkait perluasan rel, Jonan mengaku hingga saat ini KAI belum akan memperluas jalur track yang ada. Pihaknya tidak akan menambah hingga empat jalur track dari dua jalur track KRL yang saat ini tersedia.

"Kita akan jaga-jaga, khususnya pada saat hujan lebat. Untungnya kemarin tidak ada korban, tetapi kami akan tetap waspada," tambahnya.

Sekadar catatan, tanah di sekitar stasiun KRL Cilebut mengalami retak sehingga dikhawatirkan akan mengganggu perjalanan KRL lintas Kota-Bogor. Kepala Humas PT KAI Daop 1 Mateta Rijalulhaq mengatakan, kecepatan kereta diturunkan karena khawatir ada rel yang ambles sebab tanahnya juga ambles.

"Kondisi ini rawan karena tanah berpeluang ambles setelah tanah itu retak di musim kering dan terisi air hujan di awal musim hujan," kata Mateta.

Pada waktu normal, kecepatan kereta bisa mencapai 60 km/jam. Penurunan kecepatan kereta dilakukan sejak Selasa malam setelah hujan lebat mengguyur kawasan ini.

Pada Rabu pagi, kecepatan KRL bahkan sempat diturunkan hingga 5 km/jam. Setelah dilakukan pemadatan tanah, kecepatan kereta bisa ditambah lagi meskipun belum sampai normal. (Didik Purwanto/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×