kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Proyeksi menyusutnya perekonomian China jadi tantangan berat untuk Indonesia


Selasa, 11 Februari 2020 / 22:21 WIB
Proyeksi menyusutnya perekonomian China jadi tantangan berat untuk Indonesia
ILUSTRASI. Aktivitas bongkar muat di Terminal Petikemas Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (3/1). Mewabahnya virus Corona di distrik Wuhan menjadi katalis negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional China. KONTAN/Baihaki/3/1/2020

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mewabahnya virus Corona di Wuhan menjadi katalis negatif  terhadap pertumbuhan ekonomi nasional Tiongkok. Adapun hal ini tentu menjadi tantangan berat bagi Indonesia karena aktivitas bisnis antara RI dan China cukup besar.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Johnny Darmawan menjelaskan banyak transaksi yang dilakukan antara RI dengan China seperti ekspor, impor, dan investasi sehingga kalau terjadi perlambatan ekonomi di China tentu Indonesia akan merasakan dampaknya. 

Baca Juga: Apindo: Mengalihkan ekspor dari China ke negara lain itu tidak mudah

Untuk diketahui, melansir data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) investasi Tiongkok merupakan terbesar ke tiga di Indonesia setelah Singapura  dan Jepang. Adapun realisasi investasinya di sepanjang tahun lalu mencapai US$ 4,74 miliar atau naik dua kali lipat dibandingkan 2018.  

"Saya tidak bisa bicara banyak (proyeksi realisasi investasinya), hanya mempertanyakan saja wabah Corona ini akan selesai kapan. Kalau bulan depan bisa selesai, beda lagi ceritanya. Tapi sejauh ini sejumlah ahli menyatakan baru di April nanti masalahnya kelar," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (11/2). 

Johnny menjelaskan kalau selesai di April, kerusakannya sudah banyak. Artinya, proses recovery di China tidak mudah karena tiga bulan sudah terlewati. Johnny menjelaskan China juga akan berkonsentrasi memperbaiki keadaan domestiknya.

Adapun sejumlah ahli juga sudah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China akan menyusut di tahun ini. 

Baca Juga: Menaker imbau pekerja migran di Singapura tidak panik terkait virus corona

Meski di satu sisi Indonesia bisa mengisi kekosongan pasar yang ada dengan memasok barang value added, Johnny menilai bakal ada dampak ke Indonesia karena aktivitas bisnis RI-China cukup besar. 

"Untuk tumbuh lebih dari 5% saja sudah sulit, oleh karenanya pemerintah harus mencari alternatif dan melakukan gebrakan agar proyeksi ekonomi Indonesia tercapai," ujarnya. 

Johnny berharap dengan adanya omnibus law yang akan memperbaiki sistem industri yang saat berjalan kurang maksimal, investor dari negara lain bisa tertarik berinvestasi ke Indonesia. 

Baca Juga: Harga CPO rontok terkena imbas virus corona




TERBARU

Close [X]
×