kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Proyek jalan tol jalan di tempat


Jumat, 14 Juni 2013 / 09:15 WIB
ILUSTRASI. Presiden Joko Widodo.


Reporter: Fahriyadi, Margareta Engge Kharismawati | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Banyaknya realisasi proyek pembangunan infrastruktur yang mandek, terutama jalan tol, membuat sektor ini mendapat rapor merah dalam evaluasi pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014.

Dari target pembangunan jalan tol sepanjang 1.296 kilometer (km), realisasi hingga akhir 2012 hanya 0,23% atau sepanjang 296 km. "Oleh karena itu pada tahun ini akan diselesaikan 100 km jalan tol," kata Direktur Transportasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Bambang Prihartono, Kamis (13/6).

Menurut Bambang, sejumlah proyek yang akan dikejar penyelesaiannya tahun ini adalah tol Medan-Kualanamu di Sumatera Utara serta jalan tol Trans Jawa, seperti tol Cisumdawu di Jawa Barat, tol Solo-Kertosono di Jawa Tengah, dan tol Solo-Ngawi. Pemerintah juga menyiapkan investasi Rp 2 triliun untuk pembangunan jalan tol itu.

Dia beralasan, minimnya realisasi pembangunan jalan tol disebabkan sulitnya pembebasan lahan. Dia berharap Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertanahan yang saat ini masih dibahas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi angin segar dalam menangani sengketa lahan masyarakat, badan usaha, instansi pemerintahan, dan negara.

Rendahnya realisasi pembangunan infrastruktur juga terlihat dari rendahnya serapan belanja konstruksi. Dari total alokasi Rp 300 triliun, hingga pertengahan Juni 2013 penyerapan baru 20%-25%. "Meski sudah pertengahan tahun penyerapan belum 50%," ujar Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, Hediyanto W. Husaini.

Dia berharap sampai akhir, penyerapan anggaran konstruksi membaik. Sebab selama ini proses konstruksi memang kencang di lima bulan terakhir. Dia yakin permasalahan makro ekonomi seperti anjloknya nilai tukar rupiah tidak akan berpengaruh banyak dalam penyerapan belanja modal infrastruktur.

Tahun ini pasar konstruksi nasional diperkirakan mencapai Rp 433,825 triliun, naik 27% dari 2012 sebanyak Rp 312,095 triliun. Dari jumlah itu sebanyak Rp 300 triliun berasal dari proyek pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×