kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Program rumah buruh Jokowi-JK terkendala lahan


Minggu, 08 Juni 2014 / 10:43 WIB
ILUSTRASI. Pemain Persib Bandung Ciro Alves menggiring bola dengan melewati pemain Persija Firza Andika pada pertandingan BRI Liga 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/1/2023).


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Program pembangunan perumahan murah untuk buruh yang ada dalam visi misi Ekonomi pasangan Jokowi-JK akan terbentur dengan ketersedian lahan di daerah kawasan Industri yang semakin sempit.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Aliansi Rakyat Merdeka sekaligus tokoh buruh Indonesia, Jumhur Hidayat mengatakan, untuk mengatasi masalah ketersedian lahan, pembuatan perumahan murah untuk buruh yang digagas Jokowi-JK harus dibangun secara vertikal.

"Itu sederhana kan sudah dilakukan di Jakarta. Jadi dibuatnya keatas seperti rumah susun," ujar Jumhur Hidayat di Jakarta, Sabtu (7/6/2014).

Jumhur menjelaskan, kebutuhan akan perumahan buruh saat ini sangatlah mendesak. Oleh karena itu, dia menyambut baik program Jokowi-JK tersebut.

"Ya kalau harganya pasti maulah masyarakat, bisa diatur itu kan. Kalau masalah penggusuran saya tidak mau menjelaskan lebih dalam," kata Jumhur.

Mengenai lahan tanahnya, Jumhur mengatakan peran pemerintah harus besar dalam hal pembebasan tanah. Menurutnya, masalah mampu diselesaikan asalkan ada komitmen pemerintah terhadap masalah tersebut.

Sementara itu, Ketua Komite Bilateral Kadin Indonesia untuk Bulgaria, Albania dan Georgia, Alexander Yahya Datuk mengatakan, pembangunan perumahan buruh memang idealnya dibangun secara vertikal. Hal tersebut karena memang keterbatasan lahan disekitar kawasan industri sudah semakin padat.

"Memang ini (perumahan buruh) harus ke atas tidak lagi horizontal, karena dikawasan industri semakin padat," katanya. (Yoga SUkmana)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×