Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) masih memiliki pekerjaan besar untuk memperluas jangkauan pendampingan petani kecil di Indonesia. Setelah 12 tahun berdiri, organisasi tersebut telah menjangkau sekitar 2,8 juta petani melalui berbagai program kemitraan, sementara potensi petani kecil yang belum sepenuhnya terjangkau masih mencapai sekitar 44 juta orang.
Co-Chair PISAgro Franky Oesman Widjaja mengatakan, dari sekitar 2,8 juta petani yang telah terjangkau, sekitar 300.000 orang di antaranya masih menjalani pelatihan intensif. PISAgro menjalankan kemitraan melalui pendekatan inclusive closed loop atau rantai pasok tertutup yang inklusif.
Model tersebut menghubungkan sejumlah kebutuhan petani, mulai dari penyediaan benih unggul, penerapan praktik pertanian yang baik, kepastian penyerapan hasil panen melalui offtaker hingga akses pembiayaan perbankan. Menurut Franky, pola ini tidak hanya membantu petani dari sisi produksi, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan.
Salah satu penerapan model tersebut terlihat pada komoditas kelapa sawit melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dalam kurun lima tahun, produktivitas lahan sawit yang mengikuti program tersebut disebut dapat meningkat hingga dua kali lipat, sedangkan pendapatan petani dapat tumbuh hingga tiga kali lipat.
Baca Juga: Cegah Karhutla, Gapki Pastikan Industri Sawit Terapkan Zero Burning
Keberhasilan tersebut ingin direplikasi ke komoditas lain, seperti kentang, jagung, kedelai dan sejumlah komoditas lainnya. Dengan model kemitraan yang sama, PISAgro berupaya mempertemukan kepentingan petani dengan pelaku usaha dalam satu rantai pasok.
Dalam ekosistem tersebut, perusahaan berperan sebagai off taker atau pembeli hasil produksi petani. Keterlibatan off taker menjadi penting karena memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus membantu perusahaan mendapatkan bahan baku dengan kualitas dan pasokan yang lebih terukur.
"Mereka membutuhkan pasokan bahan baku yang stabil dengan kualitas yang terkontrol. Melalui model PISAgro, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi sehingga ketergantungan terhadap impor bahan baku bisa dikurangi," ujar Franky di sela acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Selasa (6/10).
Sebagian besar petani yang masuk dalam ekosistem kemitraan PISAgro merupakan pemilik lahan dengan rata-rata luas sekitar dua hektare. Jika digabungkan, lahan yang tercakup dalam ekosistem tersebut mencapai sekitar 5 juta hektare. Franky menegaskan, model kemitraan PISAgro bukanlah kegiatan filantropi. Kemitraan tersebut dirancang sebagai kerja sama ekonomi yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.
Ia mencontohkan di rantai pasok susu. Ketika perusahaan membutuhkan pasokan susu, peternak mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memenuhi standar industri. Model semacam ini bukan program filantropi, melainkan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Baca Juga: DEN Ingatkan Pemerintah Akan Ancaman El Nino dan La Nina ke Sektor Pangan
Menurut Franky, model tersebut lebih berkelanjutan karena perusahaan mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan, sementara petani memperoleh pengetahuan, sarana produksi dan kepastian pasar. Selain mendorong produktivitas, PISAgro juga memasukkan aspek lingkungan dalam program kemitraannya, termasuk upaya mencegah pembakaran lahan.
Ia menilai praktik pembakaran lahan, termasuk yang dilakukan dengan alasan kearifan lokal, perlu dihindari ketika kondisi cuaca panas dan kering, terlebih jika terjadi bersamaan dengan El Nino. Dalam kondisi tersebut, api lebih mudah menyebar, terutama ketika disertai angin kencang.
Sektor swasta dapat memberikan alternatif kepada masyarakat yang membutuhkan lahan untuk kegiatan pertanian. Salah satunya dengan membantu proses pembukaan lahan menggunakan alat berat seperti ekskavator. Pendekatan tersebut telah dijalankan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, termasuk Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang telah berjalan sejak sekitar 2014-2015.
PISAgro menilai petani dapat menjadi mitra penting dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan apabila mendapatkan pembinaan dan pemahaman yang memadai. "Petani itu kalau dibina dengan baik, diberitahu dengan baik, saya rasa bisa jadi partner yang sangat kuat," ujar Franky.
Kerek pendapatan
Raoul Oberman, Dewan Penasihat PISAgro menambahkan saat ini Indonesia masih memiliki sekitar 44 juta petani skala kecil yang belum sepenuhnya terjangkau. Tantangan tersebut semakin besar mengingat rata-rata usia petani skala kecil saat ini berada di kisaran 55-60 tahun. Menurut Raoul, pendekatan terhadap petani harus dimulai dari kebutuhan yang paling dekat dengan kehidupan mereka, yakni peningkatan pendapatan.
Pendekatan kemitraan ini harus fokus pada peningkatan pendapatan sehari-hari dan kesejahteraan keluarga petani. Ia menjelaskan, PISAgro belajar bahwa peningkatan pendapatan menjadi pintu masuk penting sebelum berbicara mengenai berbagai aspek pertanian berkelanjutan. Petani kecil umumnya memiliki perhatian utama terhadap pendapatan dalam jangka pendek.
"Kami di PISAgro belajar, Anda harus berbicara dalam bahasa petani. Anda harus mulai dari posisi mereka saat ini. Hal pertama yang dia butuhkan adalah pendapatan yang lebih tinggi. Ketika dia memiliki pendapatan yang lebih tinggi, hal berikutnya, apa yang dia khawatirkan? Keluarga, desa, kebersihan, keamanan, pendidikan dan barulah tanahnya," ungkap Raoul.
Model tersebut diterapkan melalui keterhubungan antara petani, off taker, pemasok input dan perbankan. Dengan adanya kepastian pembelian hasil panen, petani memperoleh akses terhadap sarana produksi dan pembiayaan. Pendekatan ini telah diterapkan pada sejumlah komoditas, antara lain kelapa sawit, jagung, beras dan kakao.
Raoul mencontohkan penerapannya pada program peremajaan kelapa sawit yang melibatkan sekitar 12.500 petani. Setelah lima tahun, program tersebut disebut mampu meningkatkan pendapatan dan produktivitas sekaligus membuat penggunaan air dan pupuk lebih efisien. Setelah 5 tahun, pendapatan mereka naik tiga kali, produktivitas naik enam kali dan lebih sedikit penggunaan air dan pupuk.
Model serupa juga diterapkan pada komoditas kakao, beras dan jagung. Untuk jagung, PISAgro telah memiliki sekitar 400.000 petani dalam kelompok kerja. Sekitar 40% di antaranya berada dalam sistem closed loop dan mengalami peningkatan pendapatan hingga dua kali lipat. Ia menilai capaian PISAgro yang telah menjangkau sekitar 2,5 juta petani masih dapat diperluas. Dengan jumlah petani kecil di Indonesia mencapai sekitar 44 juta orang, ruang untuk memperbesar model kemitraan tersebut masih terbuka lebar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














