kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Perang Dagang AS-China Berlanjut, Ekonomi Indonesia Berpotensi Terhambat


Minggu, 10 November 2024 / 19:43 WIB
Perang Dagang AS-China Berlanjut, Ekonomi Indonesia Berpotensi Terhambat
ILUSTRASI. Lanskap kota di pusat bisnis Jakarta, Selasa (5/11/2024). Menurut laporan Badan Pusat Statistik, Pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) tak sampai 5% atau hanya 4,95% pada kuartal III 2024. Kondisi ini disebabkan daya beli masyarakat yang ikut melambat. Tercermin dari konsumsi rumah tangga yang jadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 4,91%, lebih rendah dari kuartal II sebesar 4,93%. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/06/11/2024


Reporter: Filemon Agung | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) berpotensi mengambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, terpilihnya Trump sebagai presiden AS berpotensi melanjutkan sentimen buruk AS-China yang akan berimbas pada ketidakpastian perekonomian global.

"Perekonomian China akan semakin tertekan dan menyebabkan ekonomi negara lain juga terhambat. Termasuk Indonesia," kata Huda kepada Kontan.co.id, Minggu (10/11).

Huda menjelaskan, semangat kebijakan ekonomi berlandaskan slogan America First akan menghambat masuknya produk-produk ke pasar domestik AS. Dengan kondisi ini, industri tekstil Indonesia berpotensi mengalami tekanan. 

Baca Juga: Bahaya yang Menanti RI saat Bergabung dengan BRICS di Era Trump

Kondisi lainnya yakni pelemahan daya beli masyarakat AS akibat inflasi global dan dampak perang.

"Bagi Indonesia, ekonomi sulit tumbuh secara optimal karena faktor ekonomi global yang memanas dan saling blokade perdagangan," lanjut Huda.

Huda menjelaskan, bercermin dari kepemimpinan Trump periode pertama, saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada di angka 5%.

Baca Juga: Begini Dampak Kemenangan Donald Trump bagi Perdagangan Indonesia

Perang dagang AS-China juga berpotensi menghambat permintaan dari kedua negara tersebut. Di tengah berbagai tekanan yang ada, Huda menilai perlu ada penguatan untuk konsumsi domestik.

"Ketika kondisi global tidak memungkinkan untuk ditingkatkan, penguatan ekonomi dalam negeri menjadi strategi utama," ujar Huda.

Huda mengatakan, industri dalam negeri perlu mencari pangsa pasar ekspor alternatif selain pasar tradisional. Salah satu opsinya dengan mendorong ekspor ke negara-negara Timur Tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×