Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan jumlah pengangguran di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kualitas pasar kerja.
Pasalnya, mayoritas pekerja masih terserap di sektor informal yang umumnya menawarkan kepastian kerja dan perlindungan lebih terbatas.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,38 juta orang pada Agustus 2026.
Baca Juga: Pekerja Informal Masih Mendominasi Pasar Kerja RI, Capai 57,93%
Angka ini turun sekitar 80.000 orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pun tercatat sebesar 4,75% dari total angkatan kerja.
Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja mencapai 147,99 juta orang atau bertambah sekitar 1,44 juta orang dibandingkan Agustus 2025.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud mengatakan, penambahan tenaga kerja terjadi di sejumlah sektor, terutama pertanian dan konstruksi.
Program Magang Hub yang diselenggarakan Kementerian Ketenagakerjaan juga berpotensi ikut mendorong penyerapan tenaga kerja.
Menurut Edy, peserta Magang Hub yang menerima bayaran secara konsep masuk dalam kategori penduduk bekerja. Program tersebut menyerap sekitar 46.000 peserta pada periode pertama yang dimulai Agustus 2026.
"Penurunan pengangguran tidak semata-mata disebabkan oleh program Magang Hub," ujar Edy, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Serikat Pekerja Ingatkan Risiko Pekerjaan Informal di Tengah Kenaikan Serapan Kerja
Di balik penurunan pengangguran tersebut, struktur pasar kerja Indonesia masih didominasi pekerja informal. BPS mencatat, jumlah pekerja informal mencapai 85,73 juta orang atau 57,93% dari total penduduk bekerja pada Agustus 2026.
Sementara itu, pekerja formal hanya mencapai 62,25 juta orang atau 42,07% dari total penduduk bekerja.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, tantangan pasar kerja bukan hanya menurunkan angka pengangguran, tetapi juga memastikan pekerja memperoleh pekerjaan yang berkelanjutan dan layak.
Salah satu yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan pekerjaan peserta Magang Hub setelah program berakhir. Jika peserta kembali menganggur, kontribusi program tersebut terhadap penyerapan tenaga kerja hanya berlangsung sementara.
"Jika peserta kembali menganggur setelah program berakhir, dampaknya terhadap pasar kerja hanya bersifat sementara," kata Yusuf kepada KONTAN.
Baca Juga: Survei LPEM FEB UI: Mayoritas Ekonom Sebut Penciptaan Lapangan Kerja RI Memburuk
Selain itu, penyerapan tenaga kerja yang banyak berasal dari sektor pertanian dan konstruksi perlu dicermati karena kedua sektor tersebut cenderung menawarkan pendapatan relatif rendah.
Tekanan terhadap kesejahteraan pekerja juga terlihat dari kenaikan upah. BPS mencatat rata-rata upah buruh hanya tumbuh 2,7%, lebih rendah dibandingkan inflasi Oktober 2026 yang mencapai 3,23%.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan upah belum mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa. Akibatnya, daya beli pekerja masih tertekan.
"Itulah mengapa penurunan pengangguran belum selalu sejalan dengan persepsi masyarakat yang masih sulit memperoleh pekerjaan layak," tandas Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
