kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Peneliti CORE: Menko Perekonomian sebaiknya tak jadi Ketum Golkar lagi


Rabu, 27 November 2019 / 19:47 WIB
Peneliti CORE: Menko Perekonomian sebaiknya tak jadi Ketum Golkar lagi
ILUSTRASI. Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kedua kanan) berjabat tangan dengan Ketua Dewan Pembina Aburizal Bakrie (kedua kiri) saat Rapimnas Partai Golkar di Jakarta, Kamis (14/11/2019). Rapimnas mengambil tema Golkar Solid, Pemerintahan Stabil, Indone

Reporter: Lamgiat Siringoringo | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto masuk dalam bursa Calon Ketua Umum Partai Golkar di Musyawarah Nasional (Munas) pada Desember nanti.

Langkah Airlangga ini dinilai seharusnya tidak dilakukan mengingat pentingnya posisi Airlangga dalam mengangkat kondisi perekonomian dalam negeri.

Baca Juga: Ahok sadar mafia migas dan tingginya impor minyak jadi tantangan Pertamina

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohamad Faisal menyebutkan saat ini para menteri dalam kabinet pemerintahan sedang diuji untuk menjaga kondisi perekonomian yang sedang melemah.

Apalagi bagi Airlangga yang menjabat sebagai koordinator atau pemimpin dalam tim ekonomi Presiden Joko Widodo. “Rangkap jabatan akan membuat menteri tidak fokus,” ujar Faisal Rabu (27/11).

Menurut Faisal, perekonomian Indonesia selama ini ada permasalahan dalam koordinasi antar kementerian teknis terkait. Makanya Airlangga, Faisal menilai perlu fokus menjadi menteri yang mampu mengkoordinasikan antar instansi terkait.

Baca Juga: Jokowi: Paradigma win-win yang menjadi basis kerjasama ekonomi dunia mulai tergerus

“Partai Golkar itu partai yang besar dan Menko juga posisi yang sangat besar. Makanya seharusnya tak rangkap jabatan di situ, supaya kinerjanya bisa maksimal," katanya.

Selain itu, pelaku pasar, pengusaha dan investor akan mengamati tim ekonomi yang dipimpin oleh Airlangga. Menurut Faisal, jika nantinya Airlangga rangkap jabatan menjadi Ketua Umum Golkar maka bisa saja reaksi dari pelaku ekonomi akan negatif. Yang tentu saja membuat kondisi ekonomi Indonesia tidak bisa terangkat dari efek resesi global.




TERBARU

Close [X]
×