kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.658   1,00   0,01%
  • IDX 6.686   66,77   1,01%
  • KOMPAS100 877   10,98   1,27%
  • LQ45 666   9,17   1,40%
  • ISSI 233   2,34   1,01%
  • IDX30 372   4,41   1,20%
  • IDXHIDIV20 459   4,13   0,91%
  • IDX80 100   1,30   1,32%
  • IDXV30 127   1,31   1,04%
  • IDXQ30 119   1,06   0,90%

Pemerintah pertajam kajian One Belt One Road


Senin, 29 Mei 2017 / 20:01 WIB


Reporter: Ramadhani Prihatini | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Dua pekan setelah forum Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) One Belt One Road di China, pemerintah kembali melakukan penajaman penawaran wilayah yang akan dibuka untuk investasi. Sejumlah kementerian kembali melakukan kajian dan kordinasi guna mempersiapkan proyek dan kemungkinan skema bisnis apa yang ditawarkan.

Sekertaris Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman (Sesemenko Maritim) Ridwan Djamaluddin mengatakan, pemerintah masih menajamkan kajian untuk kembali ditawarkan ke China. Investasi ini awalnya dirancang goverment to goverment (G to G), namun didorong menjadi bussines to bussines (B to B).

Saat ini Kemenko Maritim beserta kementerian terkait seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan tengah lakukan kajian mendalam terkait wilayah Sulawesi Utara, Kalimantan Utara, dan Sumatera Utara.

Dia bilang, industri yang akan ditawarkan antara lain industri pengolahan, kelapa sawit, energi, pariwisata, transportasi.

"Kita tawarkan wilayahnya dulu," kata Ridwan pada KONTAN, Senin (29/5).

Wahyu Utomo, Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian bilang, pemerintah berkomitmen untuk tidak mengajukan pinjaman untuk pembangunan infrastruktur di ketiga wilayah yang ditawarkan tersebut.

Dia bilang, maka itu pemerintah mendorong skema business to business yang akan dilakukan badan usaha milik negara (BUMN) dari China dan Indonesia. Nah jika sudah terjadi perjajian B to B antara BUMN, maka dimungkinkan pengajuan pendanaan adri berbagai perbankan multilateral.

"Pemerintah berkomitmen untuk tidak menambah utang, namun jika mengajukan pinjaman BUMN itu dimungkinkan. Tapi kami belum ada pembahasan sejauh itu," jelas Wahyu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×