Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - MAKASSAR. Pelemahan rupiah tidak akan menguntungkan pelaku industri manufaktur di Indonesia karena sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor.
Justru secara analogi, pelemahan rupiah ini bisa menekan industri manufaktur dan berpotensi meningkatkan biaya produksi karena terjadi import inflation, sehingga pada ujungnya akan menaikkan harga barang/produk dan memicu inflasi domestik.
Menurut Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede, pandangan yang menyebut rupiah melemah dapat menjadi keuntungan bagi ekonomi nasional melalui peningkatan ekspor merupakan pernyataan yang keliru, khususnya jika melihat struktur industri manufaktur domestik saat ini.
Baca Juga: Jemaah Haji Tertua Berusia 105 Tahun Sudah Tiba Di Makkah Arab Saudi
“Kalau kita bicara industri manufaktur yang mesti mengimpor dulu bahan baku, ini pasti akan memberatkan,” ujar Josua dalam paparannya di Makassar, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah memang dapat memberikan keuntungan bagi eksportir komoditas karena pendapatan berbasis dolar meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Namun kondisi tersebut tidak berlaku bagi mayoritas industri manufaktur yang masih mengandalkan impor bahan baku dan barang penolong untuk proses produksi.
Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), biaya impor bahan baku ikut meningkat dan berpotensi menekan margin usaha pelaku industri.
Josua mengatakan, sebagian besar impor bahan baku di Indonesia juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, bukan sepenuhnya untuk barang ekspor. Oleh karena itu, pelemahan rupiah justru dapat mendorong kenaikan biaya produksi dan harga barang di dalam negeri.
“Pernyataan bahwa Indonesia diuntungkan dengan adanya kelemahan rupiah itu menyesatkan kalau kita melihat struktur ekonomi kita,” katanya.
Ia menambahkan, dunia usaha pada dasarnya lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar dibandingkan rupiah yang terlalu lemah ataupun terlalu kuat.
Baca Juga: Saudia Airlines: Pemulangan Jemaah Haji RI Dimulai pada 1 Juni 2026
Stabilitas dinilai penting agar pelaku usaha dapat menyusun perencanaan bisnis dan impor bahan baku dengan lebih pasti.
“Bagi para pebisnis, yang diharapkan adalah stabilitas. Mereka perlu mengatur impor 3 bulan lagi atau 6 bulan lagi, sehingga ada kepastian dalam perencanaan biaya,” jelasnya.
Josua juga menegaskan tugas utama Bank Indonesia bukan mengarahkan rupiah ke level tertentu, melainkan menjaga stabilitas nilai tukar agar volatilitas tidak mengganggu aktivitas ekonomi dan investasi nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













