kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Normalisasi Mobilitas Masyarakat Tekan Pertumbuhan Penjualan E-Commerce


Senin, 24 Januari 2022 / 06:37 WIB
Normalisasi Mobilitas Masyarakat Tekan Pertumbuhan Penjualan E-Commerce
ILUSTRASI. Warga menggunakan perangkat elektronik untuk berbelanja daring di salah satu 'marketplace' di Depok, Jawa Barat,


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai transaksi e-commerce di sepanjang tahun 2021 sebesar Rp 401 triliun atau baru 99,50% dari perkiraan BI yang sebesar Rp 403 triliun.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, realisasi tersebut seiring dengan mobilitas masyarakat yang kembali normal pada tahun lalu.

“Mobilitas masyarakat yang kembali normal membuat sebagian kembali berbelanja secara offline di toko ritel,” ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Minggu (23/1).

Selain itu, Bhima juga menduga adanya penurunan minat pembelian secara daring seiring dengan terbatasnya promo atau potongan harga di platform e-commerce.

Baca Juga: BI: Transaksi E-commerce Bisa Lebih Dari Rp 530 Triliun

Terbatasnya promo tersebut bisa saja karena promo hanya untuk pelanggan pertama, masyarakat sudah tidak terlalu melirik promo, hingga platform e-commerce yang mulai selektif dalam memberikan promo untuk menekan kerugian.

Ketiga, adanya kekhawatiran inflasi turut mempengaruhi perilaku berbelanja secara daring. Inflasi yang lebih tinggi membuat daya beli masyarakat menurun untuk golongan kelas menengah bawah.

Sedangkan untuk masyarakat kelas menengah atas, mereka masih memilih untuk menahan belanja karena ada varian baru Covid-19, yaitu varian Omicron.

Sementara di tahun 2022, Bhima memperkirakan masih ada potensi peningkatan total nilai e-commerce. Perkiraannya, di kisaran Rp 490 triliun hingga Rp 500 triliun. Namun, ini berada di bawah perkiraan BI yang sebesar Rp 530 triliun.

Hal ini dipengaruhi oleh sebagian masyarakat tampaknya mulai jenuh berbelanja secara daring sehingga memilih ke pusat perbelanjaan karena bagian dari rekreasi.

Dari sisi harga, ada tantangan berupa fluktuasi kurs yang mungkin mempengaruhi beberapa penjualan produk seperti produk elektronik dan jug aksesoris.

“Jadi masih banyak tantangan untuk penjualan secara daring di tahun 2022, meskipun trennya masih positif,” tandas Bhima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×