kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45897,06   -5,50   -0.61%
  • EMAS932.000 -0,11%
  • RD.SAHAM -0.23%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.08%

Menteri Agama optimistis Arab Saudi selenggarakan ibadah haji 1442 H lebih terbuka


Senin, 15 Maret 2021 / 12:45 WIB
Menteri Agama optimistis Arab Saudi selenggarakan ibadah haji 1442 H lebih terbuka
ILUSTRASI. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas

Reporter: Abdul Basith Bardan | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yakin Arab Saudi akan menyelenggarakan ibadah haji 1442 hijriah lebih terbuka.

Hal itu berkaitan dengan perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) yang sudah lebih baik dibanding tahun lalu. Sebelumnya pada tahun 2020, Arab Saudi membatasi pelaksanaan ibadah haji, yang hanya diperbolehkan untuk masyarakat yang berada di wilayah tersebut.

"Pemerintah optimistis kemungkinan diselenggarakannya haji tahun ini masih sangat terbuka," ujar Yaqut saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Senin (15/3).

Menag bilang, salah satu faktor yang membuat optimis adalah rencana Arab Saudi untuk kembali membuka akses bagi penerbangan internasional pada 17 Mei 2021. Selain itu Arab Saudi juga telah melakukan program vaksinasi Covid-19.

Meski begitu belum ada keterangan resmi terkait dengan pembukaan penyelenggaraan ibadah haji tersebut. Namun, pemerintah masih terus melakukan persiapan.

Baca Juga: Arab Saudi akan buka kembali penerbangan internasional mulai Mei 2021

"Seberapa pun tipis kemungkinannya, kami masih tetap berusaha menyiapkan penyelenggaraan haji pada tahun ini," terang Yaqut.

Penyelenggaraan haji di tengah pandemi Covid-19 akan dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku secara internasional. Hal itu juga akan dapat berubah sesuai dengan kebijakan Arab Saudi.

Penerapan protokol tersebut disebut Yaqut akan berdampak pula pada Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Terdapat 4 hal yang dapat mempengaruhi BPIH yakni pembatasan kuota, penerapan protokol kesehatan, pajak, dan kurs mata uang.

"Dapat dimaklumi bersama bahwa penyelenggaraan ibadah haji di masa pandemi seperti tahun ini akan berkonsekuensi pada pembiayaan," jelas dia. 

Lebih lanjut, Yaqut menjelaskan bahwa semakin kecil kuota jemaah haji yang berangkat akan membuat biaya per orang semakin besar. Salah satu faktor terbesar dalam biaya berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan pada sektor transportasi.

 

Selanjutnya: Raja Salman pecat menteri haji dan umrah lewat dekrit kerajaan

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×