kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Menhut Ingatkan Risiko Karhutla di Kalsel Sebelum Musim Hujan


Senin, 12 Oktober 2026 / 20:05 WIB
Menhut Ingatkan Risiko Karhutla di Kalsel Sebelum Musim Hujan
ILUSTRASI. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (DOK/lailatul anisah)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, mengingatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih perlu diwaspadai meski jumlah titik panas atau hotspot di wilayah tersebut menunjukkan kondisi yang baik. Pasalnya, hujan diperkirakan baru turun pada pertengahan November 2026.

Hal itu disampaikan Raja Juli saat meninjau lokasi karhutla di Kalsel, Senin (12/10/2026).

"Per hari ini tercatat Alhamdulillah Kalimantan Selatan angka hotspotnya terbaik. Namun, hal itu tidak membuat kita terlena karena seperti yang disampaikan BMKG hujan alam itu baru akan hadir di Kalsel pada pertengahan bulan November," ujar Raja Juli dalam keterangan resminya. 

Ia mengingatkan, masih ada sekitar satu bulan sebelum hujan diperkirakan turun. Selama periode tersebut, pengawasan dan pengendalian karhutla perlu terus dilakukan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi, terutama di kawasan bergambut.

"Karena apabila kita lengah kita tahu basis gambut, maka kebakaran bisa terjadi kembali," katanya.

Baca Juga: Karhutla di Kalimantan Tengah, Pemerintah Prioritaskan Perlindungan Tanjung Puting

Raja Juli mengatakan, pengendalian karhutla membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BPBD, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, dan relawan. 

Ia juga mengungkapkan empat faktor utama untuk mengendalikan kebakaran, yakni pemadaman melalui udara, pengerahan pasukan darat, penegakan hukum, serta keterlibatan aktif masyarakat.

Untuk pemadaman udara, pemerintah mengandalkan water bombing menggunakan helikopter dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Namun, upaya tersebut menghadapi kendala di Kalimantan Tengah (Kalteng) karena kabut tebal menghambat jarak pandang dan membatasi operasi penerbangan.

"Khusus untuk Kalimantan Tengah masalahnya ada di visibility jadi meskipun helikopter sudah standby tetapi tidak bisa beroperasi karena kabut yang tebal. Namun kalau ada ruang untuk manuver terbang itu pasti dilakukan," ungkapnya.

Baca Juga: RI Terima Bantuan Cairan dari Brasil untuk Padamkan Karhutla di Sumatera & Kalimantan

Selain pemadaman, Raja Juli menekankan penegakan hukum terhadap perusahaan yang terkait dengan karhutla. 

Ia menyebut sejumlah perusahaan telah dicabut atau dibekukan izinnya, sementara beberapa lainnya telah masuk proses pidana.

Pemerintah juga meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk membuang puntung rokok sembarangan, meninggalkan api unggun, serta menggunakan obat nyamuk tanpa memperhatikan risiko kebakaran.

"Masyarakat jangan main api, jangan membuka kebun dengan membakar maka hasilnya akan baik. Kita ajak masyarakat jangan main api sesederhana jangan buang puntung rokok sembarangan, api unggun kecil, obat nyamuk, kasihan masyarakat korban Karhutla," tegas Raja Juli.

Baca Juga: Kemenhut Catat Lonjakan Hotspot Karhutla, Kalimantan Tengah Capai 134 Titik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×