kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45959,49   0,54   0.06%
  • EMAS1.033.000 0,49%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Masyarakat yang tak divaksin, bisa jadi potensi sumber mutasi baru virus corona


Rabu, 07 Juli 2021 / 20:42 WIB
Masyarakat yang tak divaksin, bisa jadi potensi sumber mutasi baru virus corona
ILUSTRASI. Masyarakat yang tidak divaksin akan menjadi sumber mutasi baru virus corona.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Pokja Genetik dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Gunadi, mengatakan ada dua penyebab munculnya mutasi baru virus corona. Pertama, adanya interaksi sosial yang masif. Kedua, adanya masyarakat yang tidak divaksin yang menjadi sumber mutasi baru virus corona.

Efektivitas vaksin dari penelitian ada dua yakni mencegah timbulnya gejala. Serta, mencegah adanya gejala berat yang mengharuskan pasien dirawat di rumah sakit.

"Pemberian dua dosis vaksin itu sebagian besar di atas 92% di atas 90% untuk vaksin efektifitasnya. Sudah ada datanya, jadi masyarakat justru harus berbondong-bondong divaksinasi," kata Gunadi dalam Dialog Rabu Utama yang disiarkan kanal YouTube FMB9ID_IKP, Rabu (7/7).

Gunadi menerangkan, varian delta tergolong unik karena terdapat dua mutasi yaitu L452R dan T578K. Mutasi varian delta L452R mampu mempercepat transmisi, sedangkan T578K dapat menyebabkan antibodi tidak dapat nempel dan mengenali serta mengelabui virus. Namun, jika dibantu dengan vaksinasi, Gunadi menambahkan, akan meningkatkan kadar antibodi netralisasi.

"Sehingga dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan di Inggris itu efektivitas vaksin itu di atas 90% pemberian dua dosis, dalam hal pencegahan gejala infeksi dan kalau bergejala agar tidak mondok [dirawat di RS]. Pemberian dua dosis artinya apa? sangat efektif meskipun terhadap varian delta," ujar Gunadi.

Baca Juga: Varian Kappa ditemukan di Jakarta, apa bedanya dengan varian Delta?

Gunadi menambahkan, vaksin dua dosis lebih baik dari datu dosis. Lantaran rata-rata dosis pertama tercatat efektivitas vaksin di bawah 50%. Namun ketika telah diberikan dosis kedua, efektivitas vaksin naik di atas 90% dalam melindungi agar jika terpapar tidak bergejala dan melindungi supaya tidak terjadi gejala berat.

"Tetapi dosis pertama jauh lebih baik daripada tidak mendapatkan vaksin," imbuhnya.

Selain itu, Gunadi menyampaikan, berdasarkan pendapat ahli, masyarakat yang tidak divaksin merupakan sumber mutasi baru. "Sekali lagi saya tekankan pendapat ahli, masyarakat yang tidak divaksinasi itu adalah sumber mutasi baru," ujarnya.

Ia menjelaskan, ketika virus corona masuk ke sel inang manusia, kemudian tidak ada sama sekali pertahanan di dalam tubuh lantaran belum divaksin, maka tubuh akan mengandalkan respons alamiah. Jika kemudian si virus merasa tidak optimal menginfeksi maka ia akan bermutasi untuk menyerang antibodi.

"Jika virus merasa tidak fit mutasinya virusnya, maka 'wah ini saya kalah kalau seperti ini'. Maka dia akan bermutasi sampai orangnya ini kalah. Ini kalau seperti ini terus maka dia akan bermutasi akhirnya dia merasa fit dengan keadaan seperti kasus di India dulu di mana dia berkerumun interaksi yang sedemikian luar biasa hingga akhirnya timbul mutasi baru pada manusia kemudian dia menyebar dengan cepat seperti itu," jelasnya.

Gunadi menekankan, masyarakat yang tidak divaksin justru menjadi pabrik atau sumber mutasi baru. "Sumber mutasi baru yang pertama adalah interaksi sosial yang begitu masif yang kedua kalau masyarakat itu tidak divaksinasi," imbuhnya.

 

Selanjutnya: Risiko orang yang tak divaksin corona: Bisa alami long Covid

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×