Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonom senior sekaligus mantan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Permana Agung Dradjattun mengingatkan pemerintah agar mewaspadai tren pelemahan kinerja perpajakan yang tercermin dari pergerakan tax buoyancy, tax ratio, hingga defisit anggaran dalam beberapa tahun terakhir.
Permana menjelaskan, tax buoyancy mencerminkan sensitivitas kemampuan negara mengumpulkan pajak dibandingkan dengan laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Jika angkanya di bawah satu, berarti pertumbuhan penerimaan pajak tertinggal dibandingkan pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut, tax buoyancy Indonesia pada 2021 tercatat hanya 0,86 dan kemudian turun menjadi 0,68 pada 2022.
Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Jemaah Haji, RI Akan Ekspor Bumbu & Makanan Siap Saji ke Arab Saudi
"Di bawah 1 berarti kecepatan menaikkan pajak itu jauh di bawah kecepatan naiknya pertumbuhan ekonomi," ujar Permana dalam acara Tirto Indonesia Fiscal Forum (IFF) 2026, Selasa (27/1/2026).
Ia mencatat, kondisi tersebut sempat membaik pada periode 2022–2024 ketika tax buoyancy naik ke atas angka satu, yakni mencapai 1,43. Namun, perbaikan itu tidak bertahan lama.
"Artinya apa? Sensitifitas kemampuan mengumpulkan pajak tertinggal kecepatannya daripada kenaikan pertumbuhan ekonomi, yang sebetulnya pertumbuhan ekonomi naik pajak naik," katanya.
Selain itu, Permana juga menyoroti tren defisit anggaran. Meski secara nominal masih berada di bawah batas 3% PDB, defisit menunjukkan kecenderungan meningkat.
"Jadi jangan berhenti hanya melihat sekarang di bawah 3 persen, tapi itu ada tren yang naik," imbuh Permana.
Lebih lanjut, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan sejumlah indikator makro lainnya.
Baca Juga: Biaya Tol Serang-Panimbang Membengkak Rp 1,6 Triliun, Begini Penjelasan BPJT
Dalam periode 2023–2025, ketika PDB mengalami kenaikan, justru tax ratio dan tax buoyancy mengalami penurunan. Pada saat yang sama, defisit anggaran serta rasio utang terhadap PDB tercatat meningkat.
"Saya melihat dari konteks ini saja ada kelemahan yang harus kita garap lebih keras," pungkasnya.
Selanjutnya: Tak Hanya ORI dan SR, Investor Ritel Kini Lirik SBN Wholesale
Menarik Dibaca: Kesehatan Kerja: 5 Risiko yang Fatal Akibat Duduk Lama di Depan Laptop
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












