Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerapan prinsip keberlanjutan semakin menjadi perhatian dunia usaha. Namun, meningkatnya jumlah perusahaan yang menyampaikan laporan keberlanjutan belum tentu mencerminkan kualitas penerapan prinsip tersebut dalam kegiatan bisnis.
Di tengah meningkatnya tuntutan transparansi, perusahaan dituntut tidak hanya menyampaikan komitmen keberlanjutan, tetapi juga menunjukkan bukti nyata atas dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari kegiatan usahanya.
Manajer Pilar Keberlanjutan dan Ekonomi Bappenas, Setyo Budiantoro mengungkapkan, jumlah laporan keberlanjutan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat hampir 70%. Namun, peningkatan tersebut justru diikuti penurunan kualitas pembuktian.
Setyo juga mengutip survei PwC yang menunjukkan hampir 94% investor meragukan laporan keberlanjutan perusahaan. Menurut Setyo, penerapan prinsip keberlanjutan saat ini masih didominasi perusahaan yang memiliki komitmen secara sukarela.
Kondisi tersebut membuat persaingan antarpelaku usaha belum berjalan secara setara. "Perlu regulasi yang lebih tegas, disertai mekanisme penghargaan dan sanksi yang jelas untuk mendorong penerapan praktik bisnis berkelanjutan secara lebih luas," kata Setyo, Sabtu (17/10).
Baca Juga: CORE Minta Pemerintah Evaluasi Kopdes Merah Putih, Ini Catatan yang Perlu Dicermati
Sementara itu, Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo menilai, kepercayaan publik terhadap komitmen keberlanjutan perusahaan tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Kepercayaan harus tercermin dalam nilai perusahaan dan praktik bisnis sehari-hari. “Kalau bercermin dari Astra, trust itu ditenun. Menenun itu tidak instan, penuh pemikiran dan dedikasi,” ujar Windy.
Menurut Windy, penerapan prinsip keberlanjutan perlu dimulai sejak proses pengambilan keputusan bisnis, termasuk ketika perusahaan mempertimbangkan investasi di suatu sektor.
Perusahaan perlu memperhitungkan dampak kegiatan usahanya terhadap penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, masyarakat, dan lingkungan.
Windy menjelaskan, Astra menjadikan filosofi Catur Dharma sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis. Salah satu prinsipnya adalah memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
Namun, penerapan nilai perusahaan secara konsisten bukan perkara mudah, terutama bagi kelompok usaha besar. Astra sendiri memiliki hampir 200.000 karyawan yang tersebar di sekitar 300 perusahaan.
Kepercayaan juga dibangun melalui hubungan perusahaan dengan karyawan, pemerintah, mitra bisnis, dan konsumen. Konsistensi dalam memberikan layanan hingga menjalankan komitmen menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













