Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Yudho Winarto
Dampak ke Indonesia
Bagi Indonesia, dampaknya dinilai tidak kalah serius.
Pertama, lonjakan harga minyak dunia akan meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik, sehingga berpotensi memaksa pemerintah merealokasi anggaran pembangunan ke perlindungan sosial.
Kedua, nilai tukar rupiah berisiko tertekan hingga menyentuh Rp 17.000 per dolar AS. Kondisi ini dapat memicu inflasi barang impor, mengingat industri manufaktur nasional masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Ketiga, instabilitas kawasan Timur Tengah berpotensi memicu peningkatan aktivitas radikal transnasional. Sentimen anti-Barat dapat dimanfaatkan aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali jaringan ekstremis di Asia Tenggara.
Untuk itu, Rahma merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi domestik, khususnya sektor energi, guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
Baca Juga: Eskalasi AS-Israel ke Iran Mengancam, Begini Efeknya ke Indonesia
Diversifikasi energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan juga harus dipercepat.
Selain itu, diplomasi aktif di kawasan Timur Tengah dan forum internasional penting untuk mendorong penyelesaian damai konflik.
Di sisi keamanan, penguatan sistem siber dan intelijen diperlukan guna mengantisipasi potensi ancaman radikalisasi dan terorisme.
“Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini sangat kompleks dan tidak stabil. Konflik antara Iran dan Israel saja telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketegangan kawasan. Apalagi Amerika sekarang terang-terangan mengancam Iran dengan serangannya. Indonesia perlu mengambil langkah-langkah untuk menghadapi dampak ekonomi dan keamanan dari konflik ini,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













