Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. Ketimpangan di dalam negeri masih tinggi. Dari rentang pemerataan sempurna di nilai 0 dan ketimpangan sempurna di level 1, Indeks Gini Indonesia berada di level 0,39.
Apa penyebab ketimpangan masih tinggi di Tanah Air?
Senior Advisor Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero memaparkan, biasanya, negara paling parah rasio gininya adalah negara-negara yang ekonominya berlandaskan natural resources atau mengandalkan sumber daya alam. Contohnya Brasil yang memiliki kesenjangan terparah.
“Indeks Gini Indonesia masih tinggi karena pertumbuhan ekonomi banyak didorong industri-industri yang sifatnya ekstraktif. Ada pertambangan legal, tapi juga ada yang liar. Perkebunan juga. Kesenjangan upah jadi sangat jauh," katanya di kantor Staf Kepresidenan, Kompleks Istana Presiden, Jumat (6/1).
Poltak mengatakan, Gini Index yang paling rendah cenderung dimiliki oleh negara-negara yang pertumbuhan ekonominya berdasarkan industri jasa karena persaingannya lebih friendly.
Menurut dia, ekonomi Indonesia juga memiliki banyak kontribusi dari industri jasa, tetapi sumber-sumbernya terbatas.
Oleh karena itu, menurut Poltak, bila Indonesia ingin Gini Index lebih seimbang, maka program ekonomi pemerintah harus mengarah pada sektor jasa.
“Tapi ini tidak bisa langsung jadi. Misal kita kekurangan jumlah perawat, pariwisata juga yang memberikan konstribusi sangat besar,” ucapnya.
Dia bilang, ekonomi Indonesia selama ini 80% masih dikontribusikan oleh tiga pulau, yakni Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Oleh karena itu menurut Poltak, keputusan pemerintah yang ingin konsentrasi dengan kesetaraan dengan insentif harga bahan bakar minyak (BBM) di Papua harus sama patut didukung.
“Ini istilahnya, arisan nasional agar Papua bisa maju,” ujarnya.
Asal tahu saja, jika satu negara yang memiliki rasio gini tinggi, maka ketimpangan dalam masyarakat akan sangat jelas dan melemahkan kemampuan satu negara untuk tumbuh dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














