kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,14   4,65   0.50%
  • EMAS1.029.000 0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kementerian Keuangan Waspadai Risiko Stagflasi dan Resesi Global


Selasa, 22 November 2022 / 13:50 WIB
Kementerian Keuangan Waspadai Risiko Stagflasi dan Resesi Global
ILUSTRASI. Tantangan perekonomian saat ini telah bergeser dari pandemi covid-19 menjadi risiko stagflasi dan resesi global.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan perekonomian saat ini telah bergeser dari pandemi covid-19 menjadi risiko ketidakpastian global. Hal ini dipicu oleh perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda akan usai yang berakibat pada kenaikan harga komoditas dan tingginya inflasi.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, risiko ketidakpastian global tersebut terutama dipicu oleh data supply disruption yang mendorong tingginya inflasi global yang diperparah dengan perang Rusia-Ukraina yang mengerek harga-harga komoditas pangan maupun energi.

Terlebih lagi kebijakan moneter yang diperketat di banyak negara telah berdampak kepada meningkatnya cost of fund dan tekanan terhadap nilai tukar. Oleh karena itu, Febrio bilang, pemerintah akan memonitor berbagai risiko tersebut agar dapat mengantisipasi dan memitigasi serta memberikan respon yang cepat.

Baca Juga: Fenomena PHK Massal di Indonesia Menjadi Puncak Kelesuan Ekonomi

"Kondisi ini berpotensi menimbulkan stagflasi dan menimbulkan risiko resesi di banyak negara. Ini tentunya harus kita waspadai," ujar Febrio dalam acara Sosialisasi Necara Institusi Terintegrasi, Selasa (22/11).

Febrio menyampaikan, peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorber akan terus dioptimalkan untuk menghadapi guncangan ketidakpastian tersebut, seperti menjaga stabilisasi ekonomi, melindungi daya beli masyarakat khususnya masyarakat miskin dan rentan, serta menjaga tren pemulihan ekonomi agar terus melanjutkan momentum penguatan fondasi agar perekonomian Indonesia tetap resilien dan hal untuk menopang pembangunan yang berkelanjutan.

"Belajar dari penanganan covid-19 serta tantangan struktural yang dihadapi perekonomian nasional, maka arsitektur kebijakan fiskal didesain untuk tetap responsif dan antisipatif," katanya.

Baca Juga: Daya Tahan Ekonomi Indonesia 2023

Menurutnya, kerja keras APBN di masa pandemi covid-19 telah membuktikan bahwa peran APBN mampu dalam menahan pemburukan perekonomian yang semakin dalam. 
Untuk itu, inflasi Indonesia masih tetap terjaga di bawah 6% serta pertumbuhan ekonomi yang sudah di atas 5% dalam empat kuartal berturut-turut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×