kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45691,13   20,36   3.03%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

IWF dan peran inklusif wanita Indonesia dalam keberagaman


Rabu, 20 November 2019 / 22:03 WIB
IWF dan peran inklusif wanita Indonesia dalam keberagaman
ILUSTRASI. Attractive woman sitting at desk in office, working with laptop computer, holding document, having takeaway coffee. Foto: DOK Shutterstock      

Reporter: Dadan M. Ramdan | Editor: Dadan Ramdan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Women’s Forum (IWF), ajang pertemuan berjejaring wanita kelas menengah yang berkarier, berwirausaha, maupun home-maker terbesar di Indonesia, kembali menggelar rangkaian konferensi, kelas-kelas workshop dan festival produk lokal, untuk kedua kalinya. Berlangsung selama dua hari, 21-22 November 2019 di Gandaria City Hall, Jakarta, “Indonesian Women’s Forum 2019 (IWF): Bringing the Best of Indonesian Women” dan "Indonesia Young Creator’s Lab (IYCL) 2019: Speak Loudly, Act Boldly”, kali ini mengedepankan tema bahasan ‘Inklusif’.

Keberagaman bukan sekadar kata yang tren belakangan ini, melainkan sebuah kenyataan di dunia yang telah ada dan harus dihadapi. Seperti warna yang tidak hanya hitam dan putih, segala sesuatu di dunia ini memiliki banyak rupa, bentuk, dan warna. Indonesia yang bineka sangat membutuhkan perilaku inklusif dari tiap orang, tidak terkecuali. Dan wanita, karena perannya, dapat menjadi the change maker/agen perubahan. Menanamkan sikap inklusif sejak dini, dalam keluarga sebagai pola asuh dan pendidikan di sekolah merupakan langkah yang efektif.

‘Sejalan dengan misi dan visi femina yang sudah 47 tahun, femina melalui Prana Group, selaku penyelenggara kegiatan IWF, senantiasa ingin mendorong kemajuan dan kemandirian wanita Indonesia. Mengajak para wanita untuk turut ambil bagian, menjadi agen perubahan untuk mendorong nilai-nilai inklusif, karena bersama kita berdaya di lingkungan bisnis, sosial maupun profesional,” ujar Petty S Fatimah, Direktur Editorial Prana Group dalam keterangan resminya, Rabu (20/11).

Tahun lalu, IWF pertama berlangsung selama dua hari dan sukses dihadiri oleh 2.000 lebih wanita, dengan tiga wanita menteri di Kabinet Kerja menjadi keynote speaker, yaitu Sri Mulyani, Retno Marsudi, dan Puan Maharani. Sedangkan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, menjadi pembuka dari berbagai acara dengan lebih dari 50 wanita pembicara. Adapun tahun 2019 ini, yang akan menjadi keynote speaker, Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan. Pembicara yang akan tampil di IWF 2019, di antaranya; Lili Pintauli Siregar, Wakil Ketua KPK terpilih 2019-2023; Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation; Ernest Prakasa, Komika; Ari Satria, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan, dan 50 lebih pembicara lainnya serta beberapa kolaborator.

Ruben Hattari, Kepala Kebijakan Publik untuk Facebook di Indonesia, merespon positif tentang penyelenggaraan IWF 2019. “Kami percaya bahwa saat perempuan berhasil, kita semua menang. “#SheMeansBusiness adalah sebuah inisiatif yang digagas oleh Facebook untuk menginspirasi, mendukung, melatih, dan merayakan para wanita wirausaha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Melalui kerjasama yang dibangun antara #SheMeansBusiness dan Femina, kami berharap dapat memberikan pengetahuan, jaringan, keterampilan, serta teknologi yang dibutuhkan oleh para wanita wirausaha untuk memulai dan mengembangkan bisnis mereka,” ungkapnya.

Pada hari pertama, Kamis (21/11), Konferensi IWF 2019 akan berbicara tentang wanita dan kepemimpinan inklusif bertajuk Inclusive and Impactful Leader. Tema ini sangat relevan dengan situasi dunia kerja dan dunia usaha saat ini yang dinamis. Pada diskusi panel di hari pertama ini, akan hadir empat pria hebat yang duduk di puncak pimpinan. Mereka akan berbagi point of view tentang pencapaian wanita saat ini dan bagaimana inklusi mereka terapkan dalam lingkungan kerja hingga keluarga.

"Inklusi tidak hanya dimiliki wanita. Justru inklusi harus dimiliki semua orang, dan bahkan organisasi. Mengapa? Karena secara sederhana, salah satu aspek inklusi adalah menghargai orang lain. Kalau yang paling dasar ini tidak kita miliki, maka bagaimana kita akan bisa memiliki inklusi," ujar Nia Sarinastiti, Inclusion and Diversity Lead Accenture Indonesia.

Dunia kerja yang kian terbuka, menggabungkan tim kerja dengan latar belakang berbeda membutuhkan pimpinan inklusif. Seseorang dengan kemampuan pemimpin yang berkomitmen nyata pada keberagaman, menghargai keunikan individu, kolaborator yang efektif dalam memaksimalkan kinerja, culturally intelligent, adil dan merangkul semua gender dalam tim kerja.

Pada hari kedua, Jumat (22/11) akan mengusung tema tentang wanita dan sektor wirausaha: Profit with Purpose. Bagaimana ekonomi bisa digerakkan untuk kesejahteraan yang meluas dan adil dengan wanita sebagai the Change Maker. Pada kesempatan ini, kita akan mendengar cerita yang sangat mengesankan dari para wanita yang bergerak dengan hatinya untuk memberi manfaat maksimal dan inklusif dalam bidang usaha yang ditekuninya. Dalam hal ini adalah sustainable entrepreneur dan pendidikan.

Adapun inti dari bisnis inklusi adalah memiliki kemampuan membantu masyarakat berekonomi lemah sekaligus tetap menjaga keuntungan perusahaan. Survei yang dilakukan Business Call to Action dan GlobeScan terhadap 193 perusahaan yang berpartisipasi, 91% dari responden setuju bahwa bisnis mereka yang inklusi memberi dampak besar meningkatkan taraf hidup masyarakat berekonomi lemah. Perusahaan juga jadi memiliki hubungan yang baik dengan mereka sebagai konsumen maupun pegawai.




TERBARU

Close [X]
×