kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.945   -97,00   -0,54%
  • IDX 6.357   37,15   0,59%
  • KOMPAS100 835   3,58   0,43%
  • LQ45 634   -0,97   -0,15%
  • ISSI 220   2,56   1,18%
  • IDX30 356   -0,98   -0,28%
  • IDXHIDIV20 435   -3,67   -0,84%
  • IDX80 95   0,26   0,27%
  • IDXV30 120   -0,59   -0,49%
  • IDXQ30 113   -0,48   -0,42%

Italia tertarik masuk industri perikanan RI


Senin, 09 November 2015 / 17:09 WIB


Sumber: Antara | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan, Italia akan masuk dalam sektor pengolahan ikan di Indonesia.

Menurut Rizal, seusai pertemuan dengan Menteri Pembangunan Ekonomi Italia Federica Guidi di Jakarta, Senin, kerja sama di sektor perikanan akan melengkapi banyaknya perusahaan Italia yang sudah tersebar di bidang makanan, permesinan dan fesyen.

"Kita ingin memperluas kerja sama ini di bidang maritim dan perikanan. Pemerintah kan sangat ingin mendorong tumbuhnya industri pengolahan ikan. Sedang dibicarakan teknisnya business to business (B to B)," katanya. 

Menurut dia, Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam kelautan memiliki banyak potensi terutama jumlah ikan yang melimpah.

"Pemerintah ingin mendorong tumbuhnya industri pengolahan perikanan karena selama ini, ikan itu kebanyakan diambil mentah, dibawa ke luar negeri tidak ada nilai tambahnya. Tidak ada lapangan pekerjaannya buat rakyat kita," katanya.

Dengan mendorong industri pengolahan ikan, diharapkan bisa memberikan nilai tambah terhadap produk itu sendiri selain tentu dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

"Kita ingin dorong supaya berkembang industri pengolahan ikan supaya ada lapangan pekerjaan dan nilai tambahnya. Dan kemudian sisa-sisa ikan yang biasanya dibuang, itu bisa bikin tepung ikan atau 'fish meal' (pakan ikan)," katanya.

Pengolahan ikan, lanjut Rizal, juga penting lantaran selama ini Indonesia masih mengimpor tepung ikan dari negara lain.

Menurut dia, hal itu ironis lantaran negara maritim seperti Indonesia masih harus mengimpor barang yang sebenarnya bisa didapatkan di negeri sendiri.

"Tidak masuk akan negara maritim terbesar di dunia, negara dengan panjang pantai nomor dua di dunia seperti Indonesia, kok masih impor tepung ikan. Jadi kita mesti pikirkan industri pengolahan buat meningkatkan nilai tambah," pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×