kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Inflasi Oktober 2026 Diprediksi Melambat, Rupiah dan Harga Pangan Masih Membayangi


Jumat, 30 Oktober 2026 / 16:03 WIB
Inflasi Oktober 2026 Diprediksi Melambat, Rupiah dan Harga Pangan Masih Membayangi
ILUSTRASI. Inflasi nasional (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan inflasi di Indonesia diperkirakan mulai mereda pada Oktober 2026. Namun, prospek stabilitas harga masih dibayangi sejumlah risiko, terutama kenaikan harga pangan akibat potensi El Nino serta pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya produksi dan harga barang di tingkat konsumen.

Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memperkirakan inflasi pada Oktober 2026 mencapai 3,19% secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi September 2026 yang sebesar 3,28% YoY.

Secara bulanan atau month to month (MoM), inflasi Oktober 2026 juga diproyeksikan melambat menjadi 0,19%, dibandingkan 0,30% pada bulan sebelumnya.

Faisal mengatakan, perlambatan inflasi terutama ditopang oleh semakin terkendalinya dampak kenaikan harga energi global terhadap harga energi domestik. Selain itu, penurunan harga emas turut memberikan kontribusi dalam menahan laju inflasi.

Baca Juga: Gibran Sudah Siap Buka-bukaan Dokumen Ijazah, Penggugatnya Malah Mundur

“Inflasi utama diperkirakan melambat dari 3,28% yoy pada September 2026 menjadi 3,19% yoy pada Oktober 2026,” ujar Faisal kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Meski demikian, kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food diperkirakan masih menjadi penyumbang utama inflasi. Kenaikan harga sejumlah komoditas, khususnya cabai merah, cabai rawit, dan beras, menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Menurut Faisal, risiko kenaikan harga pangan juga semakin besar seiring meningkatnya potensi fenomena El Nino. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan dan produksi pertanian sehingga memicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

Di sisi lain, harga beberapa komoditas diperkirakan mengalami penurunan, di antaranya daging ayam, telur, dan bawang merah.

Sementara itu, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices diperkirakan masih terkendali. Kondisi ini didukung kebijakan stimulus pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat pada paruh kedua 2026. Dengan demikian, dampak kenaikan harga energi global terhadap konsumen domestik masih dapat diredam.

Dari sisi inflasi inti, Faisal memperkirakan terjadi perlambatan dari 2,84% YoY pada September menjadi 2,51% YoY pada Oktober 2026. Penurunan harga emas global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan inflasi inti.

Kendati inflasi diperkirakan melambat, tekanan harga ke depan tetap perlu diwaspadai. Salah satu risiko utama berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya bahan baku impor dan mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

Baca Juga: Pasokan Ekspor LNG Diklaim Aman, DEN Ingatkan Keseimbangan Pasokan Domestik

Faisal menilai, daya beli rumah tangga yang masih rapuh membuat tekanan inflasi dari sisi permintaan relatif tertahan. Namun, risiko inflasi akibat kenaikan biaya produksi atau cost push inflation berpotensi meningkat seiring depresiasi rupiah.

"Tekanan inflasi meningkat karena depresiasi Rupiah meningkatkan risiko dampak kenaikan harga dari produsen ke konsumen," jelasnya.

Selain pelemahan rupiah, risiko geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian pasar keuangan global juga berpotensi memperbesar tekanan terhadap mata uang Garuda. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya input impor sekaligus memperbesar risiko kenaikan harga barang di pasar domestik.

Mempertimbangkan berbagai risiko tersebut, Faisal memperkirakan inflasi Indonesia masih akan bertahan di atas 3% setidaknya hingga paruh pertama 2027.

Adapun inflasi keseluruhan pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 3,13%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi pada akhir 2025 yang tercatat sebesar 2,92%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×