Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan (year on year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, berdasarkan komponennya, seluruh kelompok pengeluaran inflasi mengalami kenaikan, baik komponen inti, harga yang diatur pemerintah, maupun komponen bergejolak.
Inflasi komponen inti sebesar 2,84% yoy ini meningkat dari September 2025 yang mencapai 2,19% yoy.
Baca Juga: Ekspor Tiga Komoditas Andalan RI Naik, Volumenya Justru Kompak Menyusut
"Komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 1,82% yoy," ujar Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).
Komoditas yang dominan menyumbang inflasi inti adalah, emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop/notebook, serta pelumas atau oli mesin.
Selanjutnya, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah sebesar mencapai 3,25% yoy, atau turun dari September 2025 yang mencapai 1,10% yoy. Inflasi ini memiliki andil sebesar 0,63% yoy.
Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi kelompok ini antara lain bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.
Terakhir, inflasi komponen bergejolak sebesar 5,03% yoy, atau turun dari September 2025 yang mencapai 6,44% yoy.
Adapun komponen bergejolak mencatat inflasi paling tinggi dibandingkan dua komponen lainnya, yakni sebesar 5,03% yoy. Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi kelompok ini adalah daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.
Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Naik ke 52,4, Tertinggi dalam 7 Bulan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













