kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.114   21,00   0,12%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

Imbas Pernyataan MSCI, Imbal Hasil SBN Berpotensi Naik ke 7,2% di 2027


Jumat, 06 November 2026 / 07:54 WIB
Imbas Pernyataan MSCI, Imbal Hasil SBN Berpotensi Naik ke 7,2% di 2027
ILUSTRASI. Tekanan dari pernyataan lembaga Morgan Stanley Capital International (MSCI) ke pasar keuangan Indonesia berpotensi merembet ke pasar obligasi. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – SABANG. Tekanan dari pernyataan lembaga Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar keuangan Indonesia berpotensi merembet ke pasar obligasi.

Kondisi ini dapat mendorong kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) demi menjaga daya tarik investasi di tengah ketidakpastian arus modal asing.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz mengatakan, dampak langsung MSCI terhadap pasar keuangan Indonesia relatif kecil.

Baca Juga: Yield SBN Naik, Kemenkeu Terus Pantau Rencana Penerbitan Surat Utang

Dampak yang lebih besar justru berasal dari efek tidak langsung, terutama apabila investor asing mengurangi kepemilikan saham domestik.

Menurutnya, aksi jual investor asing di pasar saham dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing (valas) akibat arus modal keluar atau capital outflow. Namun, besaran dampak langsung tersebut relatif terbatas.

Persoalan yang lebih besar muncul ketika Indonesia membutuhkan aliran dolar AS untuk membiayai defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Faiz mencatat, CAD Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Meski demikian, pihaknya memperkirakan defisit transaksi berjalan akan membaik menjadi sekitar 1,5% terhadap PDB pada akhir tahun ini.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia membutuhkan aliran modal asing untuk menopang kebutuhan pembiayaan eksternal. Ketika pasar saham tidak lagi menjadi sumber aliran modal yang dapat diandalkan, pasar obligasi menjadi salah satu tumpuan utama.

Baca Juga: Yield Tinggi, Menkeu Suahasil Sebut Penerbitan SBN Akan Cermati Kondisi Pasar

"Kalau equity tidak bisa menarik, berarti yield-nya harus terus naik," ujar Faiz dalam agenda pelatihan  wartawan Bank Indonesia (BI), Kamis (5/11/2026).

Ia menjelaskan, imbal hasil obligasi domestik harus tetap menawarkan selisih atau spread yang menarik dibandingkan US Treasury maupun obligasi global lainnya. Hal ini penting untuk menjaga daya tarik pasar obligasi Indonesia bagi investor asing.

Faiz memperkirakan, yield SBN pada tahun depan berpeluang berada di kisaran 7,2%, dengan asumsi yield US Treasury turun ke sekitar 4,2%.

Menurutnya, penurunan yield obligasi Amerika Serikat dapat memberikan ruang bagi penurunan yield domestik. Namun, Indonesia tetap perlu menjaga selisih imbal hasil agar pasar obligasinya kompetitif di mata investor global.

Selain faktor MSCI, Faiz menyebut peningkatan credit default swap (CDS) Indonesia juga dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik.

Baca Juga: Imbal Hasil SBN Berpotensi Tembus 7,8%, Ini Pemicunya

Dengan demikian, perbaikan situasi geopolitik global berpotensi membantu menurunkan premi risiko Indonesia, meskipun ketidakpastian terkait MSCI masih berlangsung hingga kuartal II-2027.

Ia menambahkan, perkembangan politik Amerika Serikat dan potensi meredanya konflik geopolitik turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi pergerakan yield US Treasury dan daya tarik aset keuangan negara berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×