kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.928   15,00   0,08%
  • IDX 6.119   81,97   1,36%
  • KOMPAS100 788   11,28   1,45%
  • LQ45 603   7,78   1,31%
  • ISSI 213   2,98   1,42%
  • IDX30 336   5,02   1,52%
  • IDXHIDIV20 429   6,53   1,54%
  • IDX80 90   1,23   1,39%
  • IDXV30 116   1,54   1,34%
  • IDXQ30 110   1,55   1,44%

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi (5/10), Ini Link Resmi untuk Memantau Abu Vulkanik


Selasa, 06 Oktober 2026 / 06:44 WIB
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi (5/10), Ini Link Resmi untuk Memantau Abu Vulkanik
ILUSTRASI. Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi (5/10), Ini Link Resmi untuk Memantau Abu Vulkanik


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dua kali pada Senin (5/10/2026) malam. Aktivitas tersebut memicu sebaran abu vulkanik yang terpantau bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung. Berikut link resmi untuk memantau sebaran abu Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada pukul 22.00 WIB, sebaran abu vulkanik teridentifikasi hingga ketinggian sekitar 9.000 kaki atau 2,7 kilometer.

Forecaster on Duty BMKG Lampung, Helena, mengatakan pergerakan abu vulkanik mengikuti kondisi atmosfer saat erupsi terjadi.

"Sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau bergerak ke arah barat laut hingga mencakup sebagian Teluk Lampung, dengan ketinggian mencapai sekitar 9.000 kaki atau 2,7 kilometer," kata Helena, Senin (5/10/2026).

Erupsi Gunung Anak Krakatau tercatat dua kali pada Senin malam. Erupsi pertama terjadi pada pukul 20.13 WIB. Saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung, meski secara visual letusan tidak teramati.

Sekitar 15 menit kemudian, erupsi kembali tercatat pada pukul 20.28 WIB. Erupsi kedua terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan durasi 61 detik.

Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, membenarkan adanya dua kali erupsi tersebut.

"Kalau laporannya dua kali," kata Andi.

Aktivitas tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau terakhir tercatat mengalami erupsi pada 10 September 2026.

Pada erupsi 10 September pukul 09.10 WIB, letusan terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 17 detik.

Baca Juga: RUU Ketenagakerjaan Batasi Jenis Outsourcing, KSBSI: Beri Kepastian Hak Pekerja

Abu Vulkanik Belum Dilaporkan Jatuh ke Permukiman

Meski sebaran abu vulkanik telah terdeteksi hingga sebagian Teluk Lampung, belum terdapat laporan mengenai masyarakat yang terdampak langsung atau permukiman yang terkena abu vulkanik hingga Senin malam.

BMKG mengingatkan bahwa arah sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin pada ketinggian berbeda.

Masyarakat yang berada di wilayah yang berpotensi dilintasi abu vulkanik diminta memperhatikan perubahan kondisi udara serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan Badan Geologi.

BMKG sebelumnya juga menggunakan citra satelit Himawari-9 untuk memantau pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Dalam pemantauan erupsi sebelumnya pada September 2026, BMKG mendeteksi sebaran abu pada sejumlah ketinggian dan menerbitkan informasi keselamatan penerbangan melalui SIGMET.

Baca Juga: Inilah Alasan Pertamina Tidak Menaikkan Harga BBM Oktober 2026

Radius 2 Kilometer dari Kawah Aktif Dilarang

Di tengah aktivitas erupsi tersebut, masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku.

Berdasarkan informasi pemantauan yang diberitakan pada 5 Oktober 2026, Gunung Anak Krakatau berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dilarang mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat juga diimbau tidak menilai kondisi Gunung Anak Krakatau hanya berdasarkan ada atau tidaknya abu vulkanik di wilayah tempat tinggal.

Arah sebaran abu dapat berubah relatif cepat akibat perubahan kondisi atmosfer. Karena itu, pembaruan dari BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BPBD, serta instansi terkait perlu menjadi rujukan utama.

BMKG menegaskan bahwa BMKG berwenang memantau dan menganalisis sebaran abu vulkanik di atmosfer, sedangkan pemantauan aktivitas vulkanik internal, penetapan status gunung api, dan peringatan erupsi merupakan kewenangan PVMBG Badan Geologi.

Tonton: OJK Berikan Kelonggaran Industri Keuangan Bagi Debitur Korban Gempa NTT

Link Memantau Abu Vulkanik 

Bagi masyarakat yang ingin memantau perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau secara mandiri, berikut adalah tiga kanal yang dapat diakses:

1. Laman Citra Sebaran Abu Vulkanik BMKG

Pilihan utama yang paling akurat adalah mengakses laman resmi Citra Sebaran Abu Vulkanik BMKG melalui tautan https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/citra-sebaran-abu-vulkanik.

Situs ini menyajikan citra satelit terbaru mengenai sebaran abu vulkanik. Pada peta, hasil analisis sebaran abu ditandai dengan warna merah di dalam poligon kuning. Data ini bersumber dari informasi aktivitas gunung berapi Volcanic

Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin. BMKG mengingatkan agar pengguna yang memanfaatkan citra ini tetap mencantumkan sumber resmi BMKG dan tidak memotong bagian logo atau keterangan sumber.

Tonton: Harga SBN Turun, BI Bisa Rugi? Ini Penjelasannya

2. Akun Instagram Resmi BMKG (@InfoBMKG)

Bagi masyarakat yang ingin memantau informasi dengan ringkas dan mudah dipahami, akun Instagram resmi @InfoBMKG menjadi kanal alternatif yang sangat andal. BMKG secara aktif membagikan siaran pers dan pembaruan darurat melalui media sosial untuk mengedukasi masyarakat luas. Selain akun resmi BMKG, masyarakat juga diimbau untuk merujuk pada informasi dari PVMBG/Badan Geologi serta instansi pemerintah berwenang lainnya.

3. Dashboard Alternatif (abu.cikoytew.my.id)

Alternatif ketiga adalah situs pihak ketiga melalui dashboard abu.cikoytew.my.id. Situs ini menggabungkan berbagai sumber data seperti VAAC Darwin untuk sebaran abu, pemodelan CAMS/ECMWF melalui Windy untuk informasi angin dan sulfur dioksida (SO2), serta data silang dari PVMBG.

Meski menyediakan fitur pencarian jarak sebaran ke berbagai kota dan lini waktu pergerakan abu, masyarakat tetap disarankan untuk membandingkan informasi dari situs non-resmi ini dengan data dari instansi pemerintah seperti BMKG dan PVMBG demi keamanan.

Perlu diingat bahwa peta sebaran abu vulkanik bersifat tidak statis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada intensitas erupsi serta kecepatan angin. Tetap utamakan informasi dari kanal-kanal resmi untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik secara tepat.







Sebagian artikel telah tayang di: https://regional.kompas.com/read/2026/10/05/231606078/usai-2-kali-erupsi-abu-vulkanik-gunung-anak-krakatau-terdeteksi-di-atas?page=all#page2. 
 

AS Habiskan Rp91 Triliun untuk Perawatan 1 Kapal Induk Nuklir, Ini yang Dikerjakan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×