kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Empat masalah mengganjal pembangunan KEK Sorong


Senin, 23 Juli 2018 / 11:22 WIB
ILUSTRASI. Luhut Pandjaitan di Jakarta Timur


Reporter: Sinar Putri S.Utami | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan mempercepat pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, Papua Barat. Cuma, masih terdapat empat kendala yang mengganjal KEK pertama di daerah Papua tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan mengungkapkan, hambatan itu, pertama, Pelabuhan Arar yang belum beroperasi sebagaimana fungsinya. Untuk itu, Luhut sudah memerintahkan PT Pelindo IV mengelola pelabuhan di Kabupaten Sorong tersebut buat angkutan penumpang. Sementara untuk bongkar muat barang dialihkan ke pelabuhan Kota Sorong.

Kedua, industri yang mau masuk di KEK Sorong. Luhut bilang, sudah ada perusahaan yang ingin membangun smelter nikel. Tapi, pemerintah menginginkan investor tersebut tidak hanya fokus kepada nikel, juga bisa menghasilkan stainless steel serta carbon steel.

Ketiga, kendala listrik. Untuk mengoperasikan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel, butuh pasokan setrum yang sangat besar. Hanya, pemerintah Sorong baru menyanggupi suplai listrik dengan membangun pembangkit tenaga gas bumi sebesar 17 megawatt (MW).

Keempat, air bersih. Cuma untuk masalah ini, Luhut menyebutkan, sudah ada sumber air bersih yang bisa memenuhi kebutuhan industri di KEK Sorong. Wakil Bupati Sorong Suka Harjono bilang, Pemerintah Sorong siap mengembangkan kawasan khusus tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×