kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Ekonom Core perkirakan neraca dagang November surplus dapat mencapai US$ 1,5 Miliar


Minggu, 16 Desember 2018 / 16:08 WIB
ILUSTRASI. Ekspor Nonmigas


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Oktober 2018 mengalami defisit US$ 1,82 miliar. Melihat hal tersebut, ekonom Center of Reform on Economics (Core), Pieter Abdullah memperkirakan neraca perdagangan November justru akan mengalami surplus. 

"Neraca perdagangan bulan November saya perkirakan akan surplus walaupun belum cukup besar di kisaran US$ 0.5 miliar-US$ 1.5 miliar," tutur Pieter kepada Kontan.co.id, Minggu (16/12).

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi neraca perdagangan November. Faktor tersebut diperkirakan akan menurunkan impor migas dengan nilai yang cukup besar. Pertama, harga minyak mentah yang mengalami penurunan hingga mendekat US$ 50 per barel. Penguatan nilai tukar rupiah yang cukup signifikan dari Rp 15.200 per dollar AS di awal bulan menjadi RP 14.200 per dollar AS di akhir bulan.

Selanjutnya, Pieter memperkirakan impor barang modal dan bahan baku akan mulai mengalami perlambatan. Meski impor mengalami perlambatan, tetapi Pieter memperkirakan, upaya pemerintah seperti perluasan B20 belum berdampak pada penurunan impor. "Belum berdampak. Implementasi B20 masih banyak kendala," ujar Pieter.

Pieter pun memperkirakan ekspor akan mengalami pertumbuhan. Namun, pertumbuhan ekspor dianggap tak akan besar. Menurutnya, turunnya harga minyak dan penguatan rupiah turut berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekspor. "Tetapi perlambatan impor lebih besar dibandingkan perlambatan ekspor," tambah Pieter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×