kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.095   15,00   0,08%
  • IDX 5.447   58,84   1,09%
  • KOMPAS100 705   8,36   1,20%
  • LQ45 549   4,58   0,84%
  • ISSI 187   3,18   1,73%
  • IDX30 307   1,72   0,56%
  • IDXHIDIV20 404   4,19   1,05%
  • IDX80 81   0,85   1,06%
  • IDXV30 113   1,87   1,69%
  • IDXQ30 102   0,69   0,68%

Cuaca Panas yang Melanda Perkotaan Mengancam Hunian Warga Miskin


Jumat, 23 Oktober 2026 / 13:00 WIB
Cuaca Panas yang Melanda Perkotaan Mengancam Hunian Warga Miskin
ILUSTRASI. Prediksi BMKG akan Lamanya Cuaca Panas yang Melanda Indonesia (dok./https://www.freepik.com)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan suhu di kawasan perkotaan menjadi tantangan bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang tinggal di permukiman padat.

Kondisi hunian dengan ventilasi terbatas dan material bangunan yang menyerap panas menyebabkan kelompok ini lebih rentan terhadap dampak cuaca panas.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan tempat tinggal. Juga kesehatan, produktivitas, dan kemampuan ekonomi masyarakat untuk beradaptasi.

Riset Beyond Housing Types (BeHousing) menemukan, masyarakat berpenghasilan rendah telah melakukan berbagai penyesuaian menghadapi panas perkotaan. Namun, upaya tersebut masih banyak bergantung pada kemampuan rumah tangga. Sementara dukungan pembiayaan dan kebijakan belum memadai.

Penelitian yang melibatkan 1.125 warga ini dilakukan di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Selangor, Malaysia, oleh konsorsium yang dipimpin Rujak Center for Urban Studies (RCUS).

Direktur Eksekutif RCUS, Elisa Sutanudjaja mengatakan, dampak panas dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Terutama pekerja luar ruangan serta penghuni permukiman padat.

Baca Juga: Kemlu Belum Terbitkan Travel Warning ke Eropa, WNI Diminta Waspada

"Kami berharap, riset ini senantiasa membersamai semua warga mewujudkan kota yang adil dan lestarii. Kota yang tidak memaksa orang memilih bekerja di luar atau tetap sehat, rumah menjadi tempat kembali untuk berlindung, bukan tempat menyimpan panas," ujarnya, Kamis (23/10). 

Hasil penelitian menunjukkan, kondisi sosial ekonomi, material bangunan, dan ventilasi memengaruhi kemampuan warga menghadapi panas. Dampaknya antara lain gangguan aktivitas, kesulitan beristirahat, hingga keluhan kesehatan.

Penelitian juga menemukan keterbatasan biaya menjadi kendala masyarakat memperbaiki hunian. Perlu dukungan pembiayaan, termasuk melalui koperasi dan skema dana bergulir berbasis komunitas.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menilai, hasil penelitian tersebut penting sebagai masukan bagi kebijakan pembangunan yang lebih inklusif.

"Hasil penelitian BeHousing penting sebagai masukan bagi pengembangan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan yang inklusif dan responsif," tegasnya.

Riset BeHousing juga menyoroti belum terintegrasinya penanganan panas perkotaan dalam kebijakan pemerintah. Panas ekstrem bahkan belum menjadi prioritas dalam kebijakan kebencanaan nasional.

Untuk itu, penelitian merekomendasikan penguatan kebijakan melalui kepastian hak atas tanah, desain bangunan yang adaptif terhadap panas. Serta tata kelola kolaboratif agar masyarakat berpenghasilan rendah tidak menanggung sendiri biaya adaptasi hunia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×