Reporter: Agus Triyono | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Rencana pemerintah untuk fokus pada pembangunan infrastruktur membuat banyak investor asal China tertarik masuk. Tapi untuk menunjang kualitas pembangunan, pemerintah tetap akan menyaring dengan melacak kredibilitas investor asal Negeri Panda yang akan masuk ke Indonesia.
Salah satu penyaringan dilakukan oleh Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) yang bekerjasama dengan Bank of China. Kepala BKPM Franky Sibarani menjelaskan, dari hasil kerjasama antar dua lembaga pemerintahan ini, pihaknya sudah mendapatkan 40 daftar investor asal China yang kredibel dan dapat dilirik untuk melakukan investasi di Indonesia.
Beberapa nama tenar termasuk di dalamnya yakni State Development and Investment Corporation dan China Anhui Conch Group Co Ltd. Nah, dari 40 nama terpercaya itu, BKPM sudah berkomunikasi dengan 20 investor. Hasilnya, rata-rata perusahaan asal Tiongkok itu berminat berinvestasi di industri perkapalan di Indonesia. "Bahkan sudah ada yang minta disiapkan lahan seluas 5.000 hektare, tapi saya lupa namanya," ujar Franky, pekan lalu.
Pemerintah memang perlu mengetahui keseriusan dari investor yang datang dan berniat berinvestasi di Indonesia. Apalagi selama ini, pemerintah memang memiliki pengalaman buruk dengan kontraktor asal China dalam investasi pembangunan infastruktur.
Seperti pengalaman yang terjadi dalam pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 10.000 megawatt yang masuk dalam Fast Track Programme Tahap I. Waktu itu, kapasitas produksi pembangkit listrik yang dibangun kontraktor asal China tidak memuaskan, karena kapasitasnya hanya mampu mencapai 30%- 50% saja.
Atas kejadian tersebut, Adrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas mengatakan, pemerintah akan selektif dengan investor China. Apalagi China menempati urutan ketiga untuk realisasi investasi 2015. Hingga Maret 2015, investor asal Tiongkok tersebut sudah berkomitmen menjalankan tiga proyek dengan nilai Rp 12,69 triliun.
Pemerintah berharap, pengalaman buruk dalam kerjasama dengan investor asal China terulang dalam pembangunan Program Percepatan Pembangunan pembangkit Listrik Bertenaga Batubara, Gas dan Energi Terbarukan yang sedang dikerjakan. "Perbankan dari China pasti punya kepentingan agar debitur mereka memiliki investasi yang menguntungkan. Karena itu kami kerjasama dengan Bank of China," pungkas Franky.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













