Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% di tengah tekanan terhadap rupiah dan volatilitas pasar keuangan domestik akibat persoalan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Menanggapi keputusan tersebut, Bank DBS memperkirakan BI masih berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada kuartal IV-2026 untuk mengantisipasi risiko terhadap stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan.
Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini belum dinilai cukup mengganggu untuk mendorong respons melalui kenaikan suku bunga.
"Fokus kebijakan BI masih tertuju pada pengelolaan volatilitas arus modal melalui berbagai instrumen yang mendukung aliran modal masuk, sembari menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik," paparnya dalam riset DBS Bank terbaru yang diterima KONTAN, Kamis (22/10/2026).
BI juga mempersempit koridor suku bunga kebijakan dengan menaikkan suku bunga deposit facility dari 4,75% menjadi 5%.
Baca Juga: Pasca Bencana Sumatera, Pemerintah Kejar Pemulihan Perikanan dan 26.036 Huntap
Dengan perubahan tersebut, selisih antara suku bunga acuan dan deposit facility menyempit menjadi 75 bps, sedangkan koridor kebijakan secara keseluruhan menjadi 150 bps, dari sebelumnya 175 bps.
Radhika menilai, penyesuaian tersebut diharapkan dapat membantu menjaga suku bunga kredit agar tidak meningkat lebih lanjut, sekaligus meningkatkan imbal hasil atas likuiditas berlebih yang ditempatkan perbankan di BI.
"Langkah ini juga diharapkan memperbaiki transmisi kebijakan moneter," imbuh Radhika.
Di tengah tekanan eksternal, BI juga memperkuat insentif lindung nilai atau hedging untuk menopang stabilitas rupiah dan mendorong aliran modal portofolio masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Sebagaimana diketahui, rupiah sempat melemah hingga menembus level Rp 18.000 per dollar AS pada awal pekan ini sebelum kembali stabil di sekitar level tersebut. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi domestik meningkat sekitar 10 bps hingga 20 bps sepanjang pekan.
Menurut Radhika, walaupun aksi beli saat harga murah atau bargain hunting membantu mengangkat pasar saham domestik dari level terendah dalam enam tahun, kekhawatiran yang telah berlangsung lama masih akan membebani pergerakan bursa dalam beberapa pekan ke depan.
Sejumlah langkah perbaikan transparansi pasar modal juga telah diumumkan regulator, termasuk pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi pada satu orang atau entitas dari indeks utama.
Baca Juga: Ada 120 Kasus Berproses Terkait Karhutla, Menhut: Siap Koordinasi dengan Polri
Kebijakan tersebut diharapkan membantu memulihkan sentimen pasar.
Langkah ini menyusul usaha lain, seperti peningkatan keterbukaan informasi mengenai pola kepemilikan saham, kenaikan bertahap ketentuan minimum free float selama tiga tahun ke depan, serta penyediaan data klasifikasi investor yang lebih terperinci.
"Perhatian utama MSCI mencakup peningkatan transparansi mengenai free float aktual, keterbukaan informasi, serta pengurangan ruang bagi distorsi harga saham. Konsultasi lebih lanjut antara regulator dan MSCI diharapkan dapat membantu meredam dampak lanjutan terhadap pasar valuta asing, obligasi, dan kredit dalam jangka pendek," urai Radhika.
Sementara dari sisi moneter, BI juga akan melonggarkan ketentuan giro wajib minimum (GWM) perbankan secara bertahap mulai November 2026.
Kebijakan ini diperkirakan membebaskan likuiditas sekitar Rp 190 triliun.
Untuk bank konvensional, GWM akan diturunkan dari 9% menjadi 8% mulai 1 November, kemudian menjadi 7% pada Desember.
Sementara GWM bank syariah dipangkas dari 7,5% menjadi 6,5% pada November dan kembali turun menjadi 5,5% pada Desember.
BI juga memperpanjang insentif untuk sektor properti dan otomotif hingga Desember 2027 guna mendukung aktivitas ekonomi dan pertumbuhan kredit.
Melihat kebijakan tersebut, Bank DBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%, dengan proyeksi internal sebesar 5,3%.
Sementara itu, pertumbuhan kredit pada September 2026 tercatat mencapai 13,3% yoy, melampaui kisaran target pertumbuhan kredit BI sebesar 8% hingga 12% yoy untuk sepanjang 2026.
Baca Juga: Karhutla Sebabkan 314.124 Kasus ISPA, Ini Cara Pengobatan Secara Medis
Lalu dari sisi inflasi, BI mempertahankan kisaran sasaran sebesar 1,5% hingga 3,5% untuk periode 2026–2027. Adapun defisit transaksi berjalan diperkirakan berada di kisaran 1,6% hingga 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan proyeksi DBS Bank sebesar 1,8% hingga 2%.
Meski berbagai langkah pelonggaran likuiditas dan insentif sektoral ditempuh untuk menopang pertumbuhan, Bank DBS masih mempertahankan proyeksi kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada kuartal IV-2026.
Langkah tersebut dinilai diperlukan untuk mengantisipasi risiko baru terhadap nilai tukar dan stabilitas keuangan.
"Di tengah lingkungan suku bunga global yang diperkirakan bertahan tinggi lebih lama, serta potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve AS lebih lanjut, ruang kebijakan BI akan tetap dipengaruhi oleh keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi domestik," tandas Radhika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














