kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Bhatoegana: 'pemecatan' PKS sebuah pembelajaran


Rabu, 12 Juni 2013 / 16:11 WIB
ILUSTRASI. Lowongan Kerja Dosen dan Staf di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Ini Syaratnya.


Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Ketua Komisi VII DPR dari Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana mengungkapkan, ‘pemecatan’ Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan konsekuensi menyimpang dari Koalisi Pemerintah. Pemecatan ini penting bagi pembelajaran sikap berkoalisi di masa mendatang.

Pernyataan Sutan ini diungkapkan sebelum Raker Komisi VII dengan Kementerian ESDM, di Gedung DPR, Rabu (12/6). Ia mengaku tak tahu persis apakah benar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mengeluarkan surat secara resmi untuk mendepak PKS dari koalisi atau tidak. "Pak SBY, kan, tidak harus selalu lapor pada Partai Demokrat terkait masalah Menteri," kata Sutan.

Namun, Sutan mengapresiasi langkah Presiden SBY jika memang hal itu benar dilakukan. Sebab, di mata Sutan, pemecatan PKS adalah konsekuensi menyimpang dari koalisi.

Dengan demikian, ia berharap ada pembelajaran ke depan bagi setiap partai politik yang akan membangun koalisi. "Jangan sampai besok lagi ada partai di dalam kabinet, tapi sikapnya di luar pemerintahan berbeda," imbuh Sutan.

Soal apakah nantinya menteri dari kader PKS akan dicopot dari kabinet, Sutan mengaku tidak tahu. Dia bilang, hal itu merupakan hak prerogatif Presiden. Walau begitu, Sutan menegaskan ada kemungkinan menteri-menteri kader PKS tetap ada di Kabinet. Kendati, partai PKS telah dikeluarkan dari koalisi. "Dalam politik segala kemungkinan selalu ada," pungkas Sutan.

.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×