Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diarahkan lebih fokus kepada kelompok rentan setelah melalui serangkaian evaluasi. Badan Gizi Nasional (BGN) kini melakukan refocusing penerima manfaat dengan mengalihkan anggaran dari sekolah yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri kepada kelompok yang lebih membutuhkan.
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan hingga saat ini pihaknya telah mengidentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa dengan total 39.352 siswa yang tidak lagi menjadi prioritas penerima MBG. Sekolah-sekolah tersebut dinilai memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan gizi peserta didik tanpa intervensi pemerintah.
Menurut Agustina, anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk sekolah tersebut akan dialihkan kepada kelompok yang lebih membutuhkan, antara lain anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
Baca Juga: Kemenkes Targetkan Pabrik Plasma Darah Beroperasi Awal 2027
"Program makan bergizi gratis ini harus benar-benar diberikan kepada yang membutuhkan intervensi gizi dari pemerintah. Sementara yang secara mandiri mampu memenuhi gizinya tidak lagi menjadi prioritas," ujarnya kepada wartawan dikutip Rabu (25/6).
Langkah tersebut menjadi bagian dari penajaman sasaran program MBG yang tengah dilakukan pemerintah seiring upaya efisiensi anggaran dan peningkatan efektivitas program. BGN menyebut jumlah sekolah yang dikeluarkan dari prioritas penerima manfaat masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring pemutakhiran data.
Selain melakukan refocusing penerima manfaat, BGN juga tengah mengevaluasi berbagai aspek tata kelola program. Selama masa libur sekolah pada 22 Juni hingga 13 Juli 2026, distribusi MBG dihentikan sementara untuk memberikan ruang bagi audit dapur MBG, pembenahan data, serta evaluasi operasional program.
Agustina mengatakan salah satu fokus evaluasi adalah memastikan intervensi gizi diberikan kepada kelompok yang paling membutuhkan. Dalam koordinasi dengan Kementerian Kesehatan, BGN juga menelaah kelompok penerima manfaat berdasarkan efektivitas intervensi gizi.
Menurutnya, intervensi gizi yang paling menentukan berada pada periode sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak. Karena itu, pemerintah tengah mengkaji kemungkinan penajaman sasaran agar manfaat program lebih optimal.
BGN juga telah mulai menyusun refocusing anggaran MBG tahun 2027. Dalam proses tersebut, pemerintah akan mengevaluasi kembali cakupan penerima manfaat agar anggaran dapat digunakan secara lebih tepat sasaran dan berdampak lebih besar terhadap perbaikan gizi masyarakat.
Langkah penajaman sasaran ini sejalan dengan hasil evaluasi yang dilakukan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya menyebut program MBG akan terus diperbaiki agar lebih efisien dan mampu mengidentifikasi kelompok yang paling membutuhkan intervensi pemerintah.
Baca Juga: Resmi, Tiket Pesawat Kelas Ekonomi Bebas PPN hingga 5 Juli 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













