kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 6.002   -99,13   -1,62%
  • KOMPAS100 781   -14,41   -1,81%
  • LQ45 590   -8,67   -1,45%
  • ISSI 208   -4,12   -1,95%
  • IDX30 333   -4,54   -1,34%
  • IDXHIDIV20 408   -4,92   -1,19%
  • IDX80 89   -1,67   -1,85%
  • IDXV30 110   -0,94   -0,84%
  • IDXQ30 107   -1,18   -1,10%

Kemenkes Targetkan Pabrik Plasma Darah Beroperasi Awal 2027


Rabu, 24 Juni 2026 / 11:48 WIB
Kemenkes Targetkan Pabrik Plasma Darah Beroperasi Awal 2027
ILUSTRASI. Budi Gunadi Sadikin (Ist./Kementerian Kesehatan)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan pabrik pengolahan plasma darah pertama di Indonesia mulai beroperasi pada awal 2027. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor berbagai produk turunan plasma yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pembangunan pabrik plasma darah tersebut telah rampung dan saat ini tinggal menunggu proses perizinan sebelum memulai produksi komersial.

"Itu sudah jadi, tinggal menunggu approval-nya BPOM. Mudah-mudahan awal 2027 bisa produksi," ujar Budi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/6).

Baca Juga: DEN: ASEAN Perlu Bangun Rantai Pasok Vaksin Regional Sebelum Pandemi Berikutnya

Menurut dia, selama ini Indonesia masih mengimpor sejumlah produk turunan plasma darah yang dibutuhkan untuk layanan kesehatan. Padahal, bahan baku berupa darah tersedia melimpah di dalam negeri seiring besarnya jumlah penduduk Indonesia.

Budi mencontohkan salah satu produk yang masih bergantung pada impor adalah immunoglobulin atau IVIG (intravenous immunoglobulin), yang merupakan produk turunan plasma darah dan digunakan untuk berbagai kebutuhan medis.

"Nah ini juga kita butuhkan, kita belanja, kita beli, tapi impor semua. Padahal darahnya kan sumber daya yang besar di Indonesia karena populasinya besar," katanya.

Ia menjelaskan plasma darah dapat diolah menjadi berbagai produk kesehatan bernilai tambah, mulai dari albumin hingga immunoglobulin. Karena itu, pembangunan fasilitas pengolahan plasma darah dinilai penting untuk memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional.

Selain mengurangi impor, keberadaan pabrik plasma darah juga diharapkan menciptakan nilai tambah ekonomi di dalam negeri. Pemerintah menilai pengembangan industri kesehatan dari hulu hingga hilir dapat memperbesar kontribusi sektor kesehatan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Budi mengatakan proyek tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem industri kesehatan yang lebih kuat. Menurutnya, berbagai produk kesehatan yang selama ini masih bergantung pada impor perlu mulai diproduksi di dalam negeri agar manfaat ekonominya dapat dirasakan Indonesia.

Dengan beroperasinya pabrik plasma darah pada 2027, pemerintah berharap pasokan produk turunan plasma dapat lebih terjamin sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor yang selama ini mendominasi pasar domestik.

Baca Juga: Pemerintah Tunda Insentif Motor Listrik, Airlangga: Implementasi Paling Cepat Agustus

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×