kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Bahlil Sebut Impor Bensin RI Susut Jadi 50%, Produksi Kilang Dalam Negeri Meningkat


Jumat, 17 April 2026 / 15:30 WIB
Bahlil Sebut Impor Bensin RI Susut Jadi 50%, Produksi Kilang Dalam Negeri Meningkat
ILUSTRASI. Green Refinery kilang minyak Pertamina Cilacap (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin kini menyusut signifikan. 

Pemerintah menyebut, porsi impor saat ini tinggal sekitar 50% dari total kebutuhan nasional, seiring meningkatnya kapasitas produksi dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, penurunan impor ini terjadi karena adanya tambahan produksi dari proyek strategis nasional, khususnya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang mulai beroperasi.

“Sebelum RDMP Balikpapan, produksi dalam negeri sekitar 14,3 juta kiloliter. Dengan tambahan 5,6–5,7 juta kiloliter, totalnya jadi hampir 20 juta kiloliter. Berarti impor kita tinggal 50%,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga: Indonesia Hentikan Impor Solar 2026: Dampak Swasta & Peran Kilang Pertamina

Secara sederhana, kondisi ini bisa dijelaskan dari perbandingan antara kebutuhan dan produksi. Konsumsi bensin nasional saat ini berada di kisaran 39–40 juta kiloliter per tahun.

Sebelum ada tambahan kapasitas kilang, produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan.

Namun setelah RDMP Balikpapan beroperasi, pasokan dalam negeri naik mendekati 20 juta kiloliter atau sekitar separuh konsumsi. Artinya, sisa kebutuhan yang belum terpenuhi, juga sekitar 50%, masih harus ditutup melalui impor.

Pemerintah juga menegaskan bahwa sumber impor kini lebih terkonsentrasi dan tidak lagi bergantung pada kawasan jauh. Seluruh impor bensin Indonesia saat ini berasal dari negara-negara di Asia Tenggara.

“Jadi tidak ada kita impor BBM dari Middle East, Afrika, Amerika atau negara lain. Itu harus clear dulu,” tegas Bahlil.

Baca Juga: Ancaman Impor Baja China Bisa Tekan Produksi Dalam Negeri Hingga 2026

Di sisi lain, pemerintah mengklaim ketergantungan impor untuk jenis BBM lain, yakni solar (CN48), sudah berhasil dihapus. Produksi dalam negeri disebut telah mencukupi kebutuhan.

Bahkan, dengan rencana implementasi campuran biodiesel 50% (B50) mulai Juli mendatang, pasokan solar diperkirakan akan berlebih. “Dengan B50, kita akan surplus. Mulai bulan Juli penerapan B50 pasti surplus,” kata Bahlil.

Dengan peningkatan kapasitas kilang dan dorongan program energi domestik, pemerintah berharap ketergantungan impor BBM, khususnya bensin, dapat terus ditekan ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×