kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45898,78   -24,72   -2.68%
  • EMAS1.326.000 0,53%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Anang, dari tukang cukur hingga Kabareskrim


Jumat, 04 September 2015 / 15:26 WIB
Anang, dari tukang cukur hingga Kabareskrim


Sumber: Kompas.com | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Polri melakukan rotasi terhadap 71 perwira tinggi. Salah satu rotasi jabatan adalah tukar guling antara Kepala Bareskrim Polri dan Kepala Badan Narkotika Nasional.

Komisaris Jenderal Anang Iskandar akan menjabat Kepala Bareskrim Polri menggantikan Komjen Budi Waseso. Adapun Budi akan menjabat Kepala BNN menggantikan Anang. Siapa Anang?

Anang menceritakan kisah hidupnya hingga mencapai pangkat jenderal bintang tiga dalam blog anangiskandar.wordpress.com.

"Itu saya sendiri yang nulis. Anda akan tahu segalanya tentang saya dari situ. Saya nulis sejak lama," kata Anang, Jumat (4/9/2015).

Anang lahir di Mojokerto pada 18 Mei 1958. Ibunya bernama Raunah, perempuan yang tidak sekolah.

Sementara itu, ayahnya bernama Suyitno Kamari Jaya, yang dulunya seorang tukang cukur di Mojokerto. Profesi itu digeluti sampai Suyitno meninggal dunia tahun 1983.

Ketika kelas 4 SD, Anang sudah dikenalkan peralatan potong rambut oleh ayahnya. Ia pernah mendapat hadiah alat cukur rambut. Saat itu, ia diminta ayahnya untuk memotong rambut temannya.

"Mulai saat itulah, saya gandrung mempelajari seni potong rambut," kata Anang.

Ketika masuk SMA TNH Mojokerto, setiap pagi, Anang menjadi tukang cukur di kompleks sekolahnya dengan difasilitasi seorang guru. Pelanggannya adalah anak–anak SD TNH.

Selain belajar mencukur rambut, di usia remaja, Anang juga mempelajari dunia fotografi dan melukis. Menurut Anang, kemampuan mencukur rambut, fotografi, dan melukis akan menjadi bekalnya untuk berjuang setelah lulus SMA.

Pasalnya, kepada Anang, ayahnya secara gamblang mengaku tidak mampu membiayainya hingga kuliah. Masih ada adik-adik Anang yang harus disekolahkan. Namun, Anang mengaku tetap ingin kuliah dengan biaya hasil usahanya.

Setelah lulus SMA, ia lalu ikut tes masuk perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Peternakan. Ia merasa, jurusan tersebut dapat mendukung cita–citanya menjadi lurah di kampung halaman. Pada waktu yang sama, ia juga ikut tes seleksi masuk Akabri.

"Pada saat itu juga sudah terjadi polemik. Anang nggak mungkin masuk Akabri karena yang masuk Akabri itu anaknya jenderal atau anaknya penggede yang banyak uangnya, sedangkan saya hanyalah anak tukang cukur di bawah pohon asem. Pada saat itu miris juga waktu menjalani tes masuk Akabri. Namun, pada saat pengumuman hasil seleksi, saya dinyatakan lulus Akabri dengan nomor urut 43 dari 203 peserta yang dinyatakan lulus," cerita dia.

Anang lalu bercerita bagaimana mengikuti latihan dasar keprajuritan Chandradimuka selama empat bulan di kaki Gunung Tidar sampai dengan Bukit Menoreh.

Proses itu harus dilakukan untuk menjadi perwira polisi Akpol. Pada akhir pendidikan, ia mendapat penghargaan sebagai peserta terbaik ketiga.

Anang lalu dilantik menjadi Perwira Muda pada 15 Maret 1982. Saat itu, kedua orangtua dan saudaranya hadir.

"Rasanya bangga dapat menjadi Perwira Muda Polri. Setelah pelantikan, orangtua saya mengadakan syukuran. Ya, sekadar tumpengan dengan panggang ayam yang cukup meriah ala tradisi Keluarga," kata Anang.

Penugasan pertama Anang berada di wilayah Polda Bali, yang ketika itu bernama Polda Nusa Tenggara (gabungan Polda Bali, Polda NTB, Polda NTT, dan Polda Timtim). Anang kemudian menceritakan berbagai pengalamannya selama di kepolisian hingga menjabat Kepala BNN. (Abba Gabrillin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×