kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Upah buruh Jakarta di 2013 akan kena pajak


Senin, 26 November 2012 / 18:55 WIB
ILUSTRASI. Saat seseorang memasuki usia lanjut, menerapkan gaya hidup sehat sangat penting dilakukan. REUTERS/Mike Segar


Reporter: Herlina KD | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Kenaikan upah minimum provinsi (UMP) ternyata tidak hanya membuat buruh gembira. Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen) Pajak juga turut gembira, sebab daftar wajib pajak yang akan dipungut pemerintah akan bertambah banyak.

Untuk DKI Jakarta misalnya, UMK 2013 yang diteken Jokowi ditetapkan sebesar Rp 2,2 juta per bulan. Artinya, buruh DKI Jakarta wajib membayar pajak, karena nilai pendapatannya berada di atas Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) pemerintah, yakni Rp 2 juta per bulan.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan,  kenaikan upah minimum itu akan menambah potensi wajib pajak baru. "Untuk selisih (antara upah minimum dengan batas PTKP) harus dibayar pajaknya," jelas Bambang di Jakarta, Senin (26/11).

Hal ini juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Pajak Fuad Rachmany. Namun, kata dia, potensi penambahan wajib pajak baru ini tak banyak berkontribusi pada peningkatan penerimaan pajak. "Dampaknya tidak terlalu besar (ke penerimaan). Masih di bawah 5% dari total penerimaan pajak," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×