kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.975   83,00   0,46%
  • IDX 6.128   26,71   0,44%
  • KOMPAS100 800   4,45   0,56%
  • LQ45 603   4,39   0,73%
  • ISSI 213   0,81   0,38%
  • IDX30 341   2,96   0,88%
  • IDXHIDIV20 416   3,91   0,95%
  • IDX80 91   0,42   0,46%
  • IDXV30 112   0,97   0,88%
  • IDXQ30 109   1,19   1,10%

Tiga ancaman ekonomi Indonesia versi KEN


Senin, 10 Desember 2012 / 11:19 WIB
ILUSTRASI. Paus Fransiskus memimpin misa memperingati Hari Orang Miskin Gereja Katolik Roma Sedunia di St. Peter Basilica di Vatikan, Minggu (15/11/2020).


Reporter: Oginawa R Prayogo | Editor: Edy Can


JAKARTA. Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan tidak setinggi target pemerintah sebesar 6,8%. KEN memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1% hingga 6,6%. "Kami lebih realitis," katanya, dalam acara Komite Ekonomi Nasional: Prospek Ekonomi Indonesia 2013' di Jakarta, Senin (10/12).

Chairul Tanjung beralasan perekonomian global belum akan membaik pada tahun depan. Dia menyebutkan ada tiga ancaman utama bagi perekonomian Indonesia.

Tiga hal tersebut yakni, Pertama, krisis Eropa yang berpeluang memburuk tajam karena tekanan politik yang dialami oleh pemimpin di Eropa. Menurutnya, tekanan ini bersumber dari tekanan sosial masyarakat sebagai akibat dari dampak pengetatan fiskal yang terpaksa dilakukan karena mengalami defisit dan tingkat utang yang besar.

Menurut Chairul Tanjung, hal tersebut berdampak negatif terhadap aliran modal karena para investor yang cenderung mencari safe heaven juga dapat memperlemah permintaan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap komoditi ekspor.

Kedua, kegagalan para politisi di Amerika Serikat dalam mengatasi jurang fiskal mengakibatkan pengetatan fiskal secara masif sebesar US$ 600 miliar yang dapat menyebabkan resesi. Menurutnya, hal tersebut berdampak terhadap perlambatan pemulihan ekonomi dunia dan berdampak negatif pada kinerja ekspor Indonesia.

Ketiga, intensifikasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga minyak. Menurutnya, melonjaknya keterangan berdampak terhadap kenaikan subsidi dan bujet defisit, serta dapat merambat terhadap kepercayaan investor terhadap pengelolaan bujet pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×